Penumpukan Material di Wairterang Ada di Luar Kawasan Konservasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Polemik terkait dengan penumpukan material milik PT. Bumi Indah yang dikatakan berada di areal kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi akhirnya terjawab.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Maumere dan dinas Kehutanan provinsi NTT melalui Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten Sikka mengeluarkan pernyataan bahwa penumpukan material berada di luar kawasan hutan lindung dan konservasi.

“Hasil ground check lapangan, posisi dan kedudukan lokasi stok material sementara milik PT. Bumi lndah berada di luar kawasan konservasi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Putau Teluk Maumere,” sebut Kepala seksi konservasi wilayah IV Maumere BKSDA NTT, Pieter R.E. Didok, SST, Rabu (19/6/2019).

Dikatakan Pieter, jarak lokasi stok material sementara milik PT. Bumi Indah dari pinggiran bibir pantai yang merupakan batas luar wilayah kawasan konservasi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere berjarak 70 meter.

“Kami telah melakukan pengecekan tanggal 17 Juni 2019 di lokasi penumpukan material di desa Wairterang kecamatan Waigete. Hasil pengecekan sudah disampaikan kepada pihak perusahaan juga,” sebutnya.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 3911/Menhut-IV/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Pengukuhan Kawasan Konservasi, kata Pieter, TWL Gugus Pulau Teluk Maumere memiliki luas 71.957,21 hektar.

“TWAL Teluk Maumere juga memiliki dokumen blok pengelolaan kawasan konservasi sesuai Keputusan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : SK.95/KSDAE.0/3/2016 tanggal 22 Maret 2016,” jelasnya.

Pihak BKSDA sebut Pieter, telah mengambil titik koordinat lokasi pasang tertinggi di TWAL Teluk Maumere dan lokasi penumpukan material milik PT. Bumi Indah. Hasil pengecekan, penumpukan material berada di luar kawasan konservasi.

Adapun Heri Siswandi, Kepala Bidang Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten Sikka menjelaskan, pihaknya pun telah turun ke lokasi penumpukan material.

Hery Siswandi, Kepala Bidang Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

Hasil pengecekan dilakukan dengan melihat lokasi penumpukan serta mengambil titik koordinat kawasan hutan lindung Egon Ilimedo RTK 107 dan lokasi penumpukan material.

“Lokasi penumpukan material berada di luar kawasan hutan lindung Egon Ilimedo. Memang lokasinya berdekatan tetapi lokasi penumpukan tersebut bukan kawasan hutan lindung,” sebut Hery.

Lokasi penumpukan material tandas Hery merupakan tanah milik pribadi masyarakat desa Wairterang. Dengan begitu, polemik terkait lokasi penumpukan material tersebut telah terjawab.

“Kami sudah menyampaikan hasil pengecekan kepada pihak perusahaan agar bisa dipergunakan pihak perusahaan. Memang jika dilihat lokasi penumpukan jaraknya tidak jauh dari kawasan hutan lindung,” ungkapnya.

Lihat juga...