hut

Perjalanan Panjang Penelitian Kehidupan di Mars

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Keingintahuan manusia akan keberadaan kehidupan di planet Mars, mungkin akan diketahui dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan kondisi planet Mars yang terbukti memiliki kandungan air dan metana, semakin mendorong keinginan para ahli untuk membuktikan bahwa planet Mars pun dapat dihuni oleh manusia, suatu saat nanti.

Ahli Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Widya Sawitar, menjelaskan, bahwa penelitian tentang planet Mars, sudah dilakukan oleh para ahli jauh lama sebelum pendaratan alat dilakukan di Mars.

“Teori bahwa Mars dapat dihuni, sudah banyak dikemukakan oleh para ahli. Karena dari gambaran jarak jauh melalui teleskop, diketahui bahwa banyak kemiripan Mars dengan Bumi,” kata Widya saat ditemui, Selasa (25/6/2019).

Yang pertama, menurut Widya, adalah ditemukannya dua satelit Mars, yang selanjutnya diberi nama Deimos dan Phobos oleh Asaph Hall.

Gambar Mars menggunakan teleskop Reflektor Schmidt Cassegrain Diameter 28 cm, Focal Ratio f/20 di Lampu pada 28 Juli 2018, pukul 17.16 GMT oleh Jefferson Teng. Foto: Istimewa

“Periode edar, jarak serta kaitannya dengan gravitasi menunjukkan bahwa ada kemiripan dengan Bumi. Jarak Phobos dari titik pusat Mars adalah tiga kali diameter Mars, yaitu sekitar 9.380 km dengan periode edar 7,7 jam. Dan Deimos berjarak lima kali diameter Mars yaitu 23.460 km dengan periode edar 30,3 jam. Ini menunjukkan rotasinya hampir mirip dengan Bumi,” urainya.

Tahun 1966, Herschel mengikuti gerak rotasi Mars dan penelitiannya dilanjutkan oleh Cassini yang berhasil menyimpulkan bahwa periode rotasi Mars mirip dengan Bumi.

“Ini adalah awal alasan kedua, mengapa Mars memenuhi syarat untuk diteliti lebih lanjut, yaitu ditemukannya kutub es di Mars oleh Cassini. Dan disimpulkan juga bahwa Mars memiliki musim yang sama dengan Bumi karena kemiringan atau inklinasi bidang ekuator terhadap ekliptika,” ujar Widya.

Pemetaan permukaan planet Mars pada tahun 1858, melahirkan istilah canali. Yang diartikan sebagai alur sungai.

“Awalnya diteliti oleh Madler dan Beer pada tahun 1840. Disempurnakan oleh Secchi pada 1858. Tapi penemuan yang paling saintifik adalah oleh Schiaparelli menggunakan teleskop pemberian raja Garibaldi pada tahun 1878, yang menyatakan melihat dataran tinggi, canali bahkan danau,” papar Widya.

Penelitian menggunakan spektroskopi yang berbasis spektrum di tahun 1930-an, menunjukkan atmosfer Mars tipis dan didominasi oleh unsur karbondioksida dengan sedikit air dan oksigen.

“Hasil ini semakin mendorong penelitian terkait Mars dan kemungkinan kehidupan disana. Walaupun menurut saya, membutuhkan suatu reaksi pembentukan karbondioksida, yang mirip dengan efek rumah kaca di Bumi, untuk membuat sistem atmosfer yang lebih tebal. Sehingga, terbentuk suatu awal kehidupan dari proses tersebut,” ungkap Widya lebih lanjut.

Hasil penelitian terbaru planet Mars, adalah pernyataan dari NASA terkait ditemukannya lonjakan gas metana secara signifikan pada Sabtu (22/6) oleh Rover Mars, Curiosity.

Dalam pernyataannya, NASA menjelaskan bahwa serangkaian instrumen Sample Analysis at Mars (SAM) telah mendeteksi metana pada 21 bagian per miliar unit berdasarkan volume, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

“Walaupun belum bisa dipastikan, merasa ini berasal dari mekanisme biologis atau non-biologis tapi kita mengetahui bahwa metana merupakan bagian dasar dari pembentukan mikroba kecil. Tapi lagi-lagi, semua ini masih terlalu awal untuk mencetuskan bahwa ada kehidupan disana. Hingga akhirnya, ada pendaratan, baru bisa,” tegas Widya.

Widya menyampaikan hingga saat ini, belum ada pendaratan manusia di Mars. Para ahli menyatakan proyeksi pendaratan manusia, baru direncanakan akan dilakukan sekitar tahun 2040.

“Secara teknologi mungkin sudah memungkinkan. Tapi teknologi yang mampu membawa manusia dan hidup disana itu harus direncanakan dengan sangat baik. Karena jarak Bumi dan Mars, dengan teknologi saat ini, baru bisa dicapai dalam waktu antara satu hingga dua tahun perjalanan. Belum waktu penelitian dan waktu untuk kembali ke Bumi,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!