hut

Pesona Kawasan Wisata Hilang, Tertimbun Material di Area Konservasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kawasan Wairterang di kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, merupakan kawasan wisata yang eksotik karena terletak di pinggir pantai Wairterang. Pesona pantai yang bersih, lautnya pun jernih, serta tumbuhan dan ekosistem laut  masih orisinil. Hal itu menjadi daya tarik wisata. Baik pada saat Lebaran maupun tidak. 

“Wairterang juga adalah kawasan hutan lindung yang merupakan Kawasan STK 107 Egon Ilimedo yang dilindungi dengan UU No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang berada langsung di bawah Kementerian Kehutanan RI,” sebut Faustinus Vasco, anggota komisi II DPRD Sikka, Sabtu (8/6/2019).

Anggota komisi II DPRD kabupaten Sikka Faustinus Vasco. Foto: Ebed de Rosary

Wairterang juga, kata Vasco, sapaannya, merupakan Daerah Konservasi berdasarkan ketentuan UU No. 1 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Daerah Wilayah Pesisir Pulau Pulau Kecil.

“Kondisi ini menggambarkan bahwa Wairterang adalah wilayah yang hanya bisa dinikmati pesonanya dan jauh dari pengelolaan yang tidak ramah lingkungan,” ungkapnya.

Dengan begitu, kata Vasco, pengelolaan tambang mineral pasir dan batuan di sekitar wilayah tersebut merupakan tindakan yang salah dan harus dihentikan. Apalagi kalau mengganggu habitat dan sejumlah ekosistem seperti Kera Ekor Panjang yang harus pergi dan menjauh dari kawasan itu.

“Tindakan penimbunan dan pengolahan material di kawasan tersebut apalagi tidak mengantongi izin dari kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dapat dikategorikan sebagai kejahatan lingkungan dan perusakan hutan. Polisi harus segera menghentikan aktivitas tersebut dan segera proses hukum,” tegasnya.

Sementara itu, kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Sikka, Yunida Pollo, menegaskan, penimbunan material tanah dan bebatuan di kawasan Wairterang oleh PT. Bumi Indah tidak mengantongi izin dari kantornya.

“Pernah ada orang yang datang dan mengaku dari PT. Bumi Indah yang memiliki material tersebut. Tetapi nomor telepon genggam yang diberikan saat dihubungi tidak pernah dijawab. Kami mau meminta konfirmasi apakah benar material tersebut milik mereka,” ungkapnya.

Pihaknya pun kata Yunida, belum mendapatkan pemberitahuan secara resmi dari pihak perusahaan terkait aktivitas penimbunan material di lokasi daerah konservasi. Perusahaan akan dipanggil untuk melihat persyaratan administrasi yang dimilikinya.

“Kami akan koordinasikan dengan Dinas Pertambangan terkait ada tidaknya izin WIUP dari perusahaan tersebut. Kalau tidak maka kita akan batalkan sebab tidak boleh ada penimbunan material di daerah konservasi,” tegasnya.

Perusahaan tersebut tandas Yunida, wajib mengantongi izin WIUP dari dinas pertambangan dan mendapat rekomendasi dari DLH Sikka. Apalagi daerah timbunan material merupakan daerah konservasi sehingga izin yang dikeluarkan harus benar-benar sesuai.

Disaksikan Cendana News, penimbunan material yang dikatakan dilakukan oleh PT. Bumi Indah di wilayah Wairterang menutupi saluran air. Penimbunan dilakukan persis di samping jalan negara trans Flores Maumere-Larantuka.

Tidak jauh dari lokasi penimbunan terdapat papan nama bertuliskan kawasan hutan lindung Egon Ilimedo RTK 107 dan dilarang merusak sarana dan prasarana perlindungan hutan. Dilarang mengerjakan, menggunakan dan menduduki kawasan hutan secara tidak sah.

Selain itu dikatakan, dilarang merambah hutan, membakar hutan, menebang pohon, memanen dan memunguti hasil di dalam kawasan hutan. Selain itu juga dilarang melakukan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin menteri kehutanan.

Bagi yang melanggar maka akan dikenakan hukuman pidana penjara atau kurungan dan denda sesuai Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!