hut

Petani di Ulubelu Lampung Berharap Harga Kopi Stabil

Ilustrasi -Dok: CDN

BANDARLAMPUNG — Para petani pembudidaya kopi robusta Lampung di Pekon (Kampung Ngarip), Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung berharap harga kopi pada musim panen tahun ini tetap stabil, sehingga memberikan jaminan keuntungan memadai dan diterima para pekebun kopi sebagai komoditas andalan utama di daerah ini.

Menurut salah satu petani kopi di Ngarip, Ulubelu, Setiobudi (46), saat ini harga kopi robusta dibeli pedagang dengan harga berkisar Rp18.500 hingga Rp19.000 per kg kadar air sekitar 16 persen. Sebelumnya harga kopi masih bertahan kisaran Rp20.000/kg kadar air 16 persen.

“Harga agak turun musim panen kopi sekarang ini, mudah-mudahan segera stabil kembali,” katanya di Ulubelu, Selasa (18/6/2019).

Menurut dia, pembeli kopi robusta produksi pekebun di Ulubelu dari kalangan pabrikan justru mematok kadar air lebih tinggi yaitu kisaran 12 persen, dengan harga beli saat ini juga lebih tinggi Rp20.000 per kg.

“Makin kering dan tinggi kadar airnya, harganya memang makin tinggi,” katanya pula. Namun saat ini masih terjadi hujan di daerah sekitar Ulubelu, sehingga umumnya pekebun di daerah ini memilih menjual kopi biji pada kisaran kadar air hingga 16 persen.

Berkaitan produktivitas hasil kebun kopi tahun ini, diperkirakan akan meningkat dibandingkan tahun lalu yang sempat mengalami penurunan produktivitas, diperkirakan akibat kondisi iklim/cuaca yang kurang mendukung.

“Sebenarnya, tingkat produktivitas budi daya kopi robusta bisa mencapai minimal 1 ton per hektare dengan dukungan perawatan dan pemupukan yang mencukupi. Kalau kurang terawat dan pupuk tak terpenuhi dengan baik, produktivitasnya bisa turun di bawah itu,” kata Setiobudi pula.

Dinas Perkebunan Lampung menyatakan produktivitas kopi dari para pekebun di daerah ini pada 2018 secara khusus mengalami penurunan hingga 50 persen. Tahun lalu menghasilkan 500-600 kuintal per hektare dari tahun 2017 mencapai sebesar 800-900 kuintal per hektare. Namun, pada 2019 ini diprediksi kembali meningkat.

Diprediksi 2019 produksinya meningkat, karena kondisi iklim yang lebih baik dari tahun lalu. Curah hujan tidak terlalu tinggi, karena curah hujan tinggi berdampak saat proses pembungaan tanaman kopi produksinya tidak terlalu baik. Panen kopi di sentra kopi Lampung mulai produksi Mei-Juli mendatang.

Peningkatan produktivitas kopi juga harus memperhatikan pemupukan, penyiangan, dan utamanya pemeliharaan dan pemangkasan tanaman kopi yang ada. Dalam jangka panjang, Pemprov Lampung melalui dinas terkait memprogramkan peremajaan pohon kopi seluas 400 hektare di Lampung Barat dan 200 hektare di Tanggamus. Namun, program peremajaan ini baru bisa terlihat hasilnya pada 3 tahun ke depan.

Panen kopi di Lampung, sudah dimulai pada bulan April dan akan mencapai puncaknya pada bulan Juni atau Juli tahun ini.

Indonesia adalah produsen biji kopi robusta terbesar ketiga di dunia.

Sebagai daerah penghasil utama kopi robusta adalah Provinsi Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan yang menghasilkan sekitar 75 persen dari total produksi di Indonesia. Biji-biji kopi dari wilayah tersebut dikirim dari Pelabuhan Panjang, Bandarlampung, Lampung.

Ekspor biji kopi Lampung tahun 2018 mencapai 300 ribu ton, dan pada 2018 ekspor diperkirakan turun hingga 50 persen. Namun 2019 ini diprediksi akan kembali naik.

Penurunan produksi komoditas andalan Lampung itu salah satunya dipengaruhi faktor cuaca ekstrem yang terjadi pada tahun lalu berupa curah hujan cukup tinggi, sehingga bakal buah tanaman kopi banyak yang rontok. Produktivitas tanaman kopi turun dari sebelumnya satu ton per hektare menjadi 500 kg/ha. Bahkan ada wilayah di Lampung, hasil panen kopinya hanya 250 kg/ha.

Penurunan hasil panen kopi tahun 2018 ini, juga tidak dibarengi oleh kenaikan harga biji kopi yang masih bertahan Rp25.000/kg di tingkat petani.

Lampung merupakan pemasok kopi robusta terbesar di Tanah Air dengan produksi rata-rata 100.000-120.000 ton per tahun dengan luas areal kopi mencapai 163.837 hektare. [Ant]

Lihat juga...