Rekoleksi Cara Melatih Hidup Rohani Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Salah satu cara gereja Katolik menjaga iman generasi muda melalui kegiatan pertemuan pendalaman iman.

Kegiatan rekoleksi salah satunya digelar sebagai cara melatih hidup rohani untuk menuju ke arah lebih baik.

Pursiani, pendamping Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja (BIRBIA) menyebut rekoleksi memiliki makna khalwat atau perenungan dalam waktu pendek. Rekoleksi yang digelar salah satunya untuk persiapan penerimaan komuni perdana.

Sebagai salah satu cara olah rohani, rekoleksi yang digelar kerap disatukan dengan perayaan Ekaristi Kudus. Selama ini generasi muda Katolik melalui BIRBIA menerima pelajaran iman melalui sekolah minggu dan pendalaman iman.

Memasuki usia yang dianggap cukup untuk memahami makna komuni dalam gereja Katolik, sebanyak 48 anak usia SD hingga SMP memaknai komuni yang akan diterima.

Pursiani (kanan) salah satu pemberi materi rekoleksi persiapan komuni pertama Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja – Foto: Henk Widi

Komuni dalam gereja Katolik diakui Pursiani merupakan simbol penerimaan tubuh dan darah Kristus dalam wujud roti tidak beragi yang sudah dikonsekrasi oleh Pastor.

Sebelum memasuki waktu penerimaan komuni pertama segala persiapan telah dilakukan dengan pelajaran rutin setiap pekan dalam kurun waktu setahun. Puncaknya sepekan sebelum waktu penerimaan komuni, rekoleksi digelar melibatkan orangtua.

“Dasar-dasar iman Katolik terkait Allah yang diimani sebagai Tritunggal Maha Kudus menjadi bagian wajib untuk anak-anak setelah dibaptis, menerima komuni dan sejumlah sakramen dalam gereja Katolik,” terang Pursiani di sela sela rekoleksi jelang komuni perdana, Minggu (16/6/2019).

Pursiani menyebut sejumlah pendalaman iman gereja Katolik saat rekoleksi berisi tentang syahadat iman Katolik, sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja. Selain itu doa-doa pokok sesuai iman Katolik meliputi Bapa Kami Salam Maria dan doa harian diperdalam.

Makna penerimaan komuni sebagai bagian iman penting Katolik yang meyakini pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi menjadi materi rekoleksi yang cukup penting.

Rekoleksi sekaligus memiliki tujuan mempersatukan generasi muda Katolik dari berbagai wilayah unit pastoral. Sejumlah anak dari stasi Sumber Agung, Tridharmayoga, Bakauheni, Pasuruan, Kalianda dan Palas disatukan dalam rekoleksi.

Pemantapan bersama setelah setiap stasi melakukan persiapan sekaligus mempertemukan setiap orangtua yang memiliki anak jelang penerimaan komuni perdana.

“Orangtua serta anak dari berbagai wilayah dipertemukan dalam Communio atau persatuan, sekaligus menjadi peserta rekoleksi hanya dipisah lokasinya dengan rekoleksi anak,”papar Pursiani.

Selain pendalaman iman anak, rekoleksi juga diisi dengan tata cara untuk hidup menggereja yang benar. Sejumlah sakramen atau tanda serta sarana keselamatan juga menjadi materi bagi anak anak.

Sebab rangkaian sakramen dalam gereja Katolik diterima sejak lahir mulai dari sakramen baptis, ekaristi, perkawinan, imamat, krisma dan pengurapan orang sakit serta pengakuan dosa. Puluhan anak usai rekoleksi menerima sakramen pengakuan dosa atau tobat dari dua pastor.

Nanang, salah satu orangtua yang mengikutkan anak dalam kegiatan rekoleksi mengaku iman semakin diperbarui. Persatuan dengan umat Katolik wilayah Lamsel yang digelar dalam acara di gereja Santa Maria Palas tersebut menjadi tanda gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Selain bagi anak-anak, semua orangtua yang dilibatkan juga menngikuti rekoleksi dengan pendamping salah satu ketekis atau guru agama.

Pastor Wolfram Safari, Pr (tengah) pemimpin Ekaristi pada peringatan hari raya Tritunggal Maha Kudus – Foto: Henk Widi

Sejumlah materi terkait iman katolik dan tugas orangtua mendidik generasi muda diberikan oleh Katekis. Melalui rekoleksi para orangtua kembali diingatkan akan sakramen perkawinan, mendidik anak dan hidup menggereja.

Meski rekoleksi digelar dalam waktu singkat namun penyegaran dasar iman Katolik menjadikan para orangtua memiliki semangat untuk mendidik anak dalam iman Katolik.

Sementara itu pastor Wolfram Safari, Pr selaku pemimpin ekaristi menyebut rekoleksi tepat dilakukan. Terlebih pada Minggu (16/6) gereja Katolik merayakan hari raya Tritunggal Maha Kudus.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, iman Katolik sesuai dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa juga menjadi dasar agama Katolik.

Tuhan yang Satu dalam Tritunggal Maha Kudus semakin diimani sehingga menjadi dasar generasi muda Katolik yang akan menerima komuni kudus yang direncanakan akan diberikan pekan depan.

Lihat juga...