hut

Sejahterakan Perajin, Kelompok Tenun Balai Panjang Bangun Koperasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PAYAKUMBUH – Kelompok Tenun Balai Panjang, yang berada di Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, merupakan sebuah sentral tenun yang ada di kota rendang tersebut. Kini, kelompok tenun itu, tengah membangun sebuah koperasi.

Pendiri Kelompok Tenun Balai Panjang, Effendi, mengatakan, saat ini di kelompok tenun itu terdapat 35 orang anggota perajin yang bersifat Industri Kecil Menengah (IKM). Namun yang berada di Sentral Tenun ada 15 orang perajin yang bekerja dengan sistem upah.

Ia menceritakan, dulu kala sebelum terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, terhitung sejak 2005 telah menekuni usaha tenun dengan pangsa pasar di Kota Bukittinggi dan Padang Panjang.

Melihat pangsa pasar yang bagus, Effendi berinisiatif mendirikan sebuah kelompok tenun dengan harapan dapat mensejahterakan perajin tenun lainnya.

Pendiri Kelompok Tenun Balai Panjang, Effendi/Foto: M. Noli Hendra

“Waktu sebelum adanya kelompok tenun, hasil kerajinan itu hanya dapat dipasarkan bersifat lokal. Namun setelah terbentuk Kelompok Tenun Balai Panjang, melalui Sentral Tenun, pangsa pasar tenun khas Payakumbuh menyebar ke berbagai daerah di Indonesia,” katanya, Rabu (19/6/2019).

Untuk itu, dengan target agar bisa mensejahterakan perajin, Sentra Tenun Balai Panjang, tengah berupaya menaiki jenjang usaha ke arah yang lebih baik, yakni dengan cara membentuk sebuah koperasi.

Kini, proses pembentukan koperasi telah sampai ke tahap sosialisasi kepada sejumlah anggota kelompok dan masyarakat, supaya keberadaan Koperasi Tenun Balai Panjang nantinya, mampu menampung hasil kerajinan tenunnya.

Effendi mengaku tujuan yang hendak dicapai membentuk  koperasi, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan perajin yang selama ini belum mendapatkan penghasilan yang layak, padahal tenun merupakan produk bernilai tinggi.

Melalui adanya koperasi, tenun  yang dikerjakan oleh para ibu rumah tangga, bisa ditampung oleh koperasi.

“Nama koperasi kita tinggal ubah dari Kelompok Tenun Balai Panjang menjadi Koperasi Balai Panjang. Artinya setelah nanti menjadi koperasi, di Sentral Tenun ini akan membuka diri, siapa pun masyarakat Payakumbuh boleh bergabung,” ujarnya.

Kini di Sentral Tenun yang dikelola oleh Kelompok Tenun Balai Panjang, memiliki kurang lebih 15 alat tenun yang dibantu oleh Pemerintah Kota Payakumbuh. Untuk pekerja, merupakan masyarakat setempat yang telah dilatih jadi perajin tenun dengan motif khas Payakumbuh.

“Motif tenun kita di sentral ini khas bisa dilihat seperti zig zag. Memang di berbagai daerah di Sumatera Barat banyak yang melakukan usaha tenun. Namun di Payakumbuh punya kekhasan yang unik,” jelasnya.

Ia menyebutkan dengan kini telah memiliki perajin yang mencapai 15 orang di Sentral Tenun Balai Panjang, setidaknya menghasilkan 40 sampai 50 potong tenunan dalam satu bulan.

Harganya pun bervariasi tergantung kesulitan motif dan panjang tenun yang dihasilkan. Tapi yang paling tinggi harga tenunnya Rp800 ribu dengan panjang tenun mencapai 3 meter. Sementara yang harga termurah yakni Rp300.000 panjang tenun hanya 2,8 meter.

“Sebenarnya untuk kualitas hasil tenun Balai Panjang tidak berbeda dengan hasil tenun yang ada di Sumatera Barat pada umumnya. Hanya saja, Balai Panjang lebih mengutamakan motif yang lahir di Payakumbuh, seperti motif saik galamai, itiak tabang dan bungo kumbuh,” ungkapnya.

Selain telah memiliki pangsa pasar di Padang Panjang Bukittinggi, kini hasil tenun perajin Balai Panjang sudah ada yang memesan langsung, dan itu datang dari daerah luar  Sumatera Barat.

“Sekarang saja pemesanan dari instansi pemerintah di Payakumbuh agak kewalahan perajin kita. Belum lagi untuk pemesan luar dari Sumatera Barat. Kendati demikian, kita tidak menganggap hal ini kesulitan, tapi malah motivasi untuk lebih baik lagi dalam menghasilkan tenun yang terbaik.

“Dengan adanya pemesanan langsung itu, maka untuk sehelai tenun yang dihasilkan perajin menerima upah rata-rata per hari Rp100.000 – Rp300.000, tergantung kesulitan motif yang dihasilkannya. Padahal sebelum adanya kelompok ini, perajin hanya memperoleh upah Rp15.000 dan tertinggi Rp25.000 per hari,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh, Faisal mengatakan, perajin tenun yang ada di Sentral Tenun di bawah Kelompok Tenun Balai Panjang , selama ini telah dibina dan dilatih oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat. Sehingga berkembangnya Sentral Tenun itu, berkat dilatih dan dibina.

“Kita di Pemko Payakumbuh tinggal melakukan pengawasan, karena itu kewenangan di daerah. Maka kita sangat berterima kasih, karena selalu mendapatkan perhatian dalam pengembangan koperasi dan UKM,” ungkapnya.

Faizal menjelaskan kini jumlah koperasi di Kota Payakumbuh terus berkurang. Kini yang aktif hanya sekitar 80 unit, ada 65 unit koperasi yang sedang proses pembubaran. Penyebabnya terjadi, karena memang koperasi itu ada yang tidak serius dijalani.

“Melihat pada angka UKM di Payakumbuh ini justru lebih menggembirakan dengan angka 1.732 unit usaha. Jumlah itu terdiri dari UKM bergerak di bidang kuliner rendang, budidaya jamur, tenun songket dan sejumlah UKM lainnya,” ujarnya.

Lihat juga...