Sejak 2018, SAR Maumere Lakukan 94 Pencarian dan Pertolongan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Dari bulan Januari sampai Desember 2018 hingga bulan Mei tahun 2019 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Kantor SAR Maumere telah melaksanakan 94 operasi pencarian dan pertolongan. Operasi tersebut terkait dengan kecelakaan di laut dan di darat.

“Selama tahun 2018 hingga Mei 2019, kantor SAR Maumere telah melakukan operasi pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan kapal 38 kali. Selain itu Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) 38 kali dan bencana alam sebanyak 18 kali,” ungkap Direktur Operasional Basarnas, Brigjen TNI (Mar) Budi Purnama, SIP, MAgr,  Senin (24/6/2019).

Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI (Mar) Budi Purnama, SIP, Magr. Foto: Ebed de Rosary

Pos SAR Maumere jelas Budi, berdiri tahun 2008 dengan personel 5 orang. Pada tahun 2017 ditingkatkan menjadi kantor SAR Maumere dengan personel 28 orang. Tahun 2019 sudah ditambah tenaga menjadi 40 orang ditambah dengan kapal dan peralatan lainnya.

“Basarnas pusat pun terus menambahkan peralatan dan tenaga di kantor SAR Maumere agar bisa membantu pemerintah daerah. Targetnya kantor SAR Maumere akan ditingkatkan menjadi 250 personel. Ada 2 pos SAR yakni Labuan Bajo dan Alor,” sebutnya.

Yang paling pertama dilakukan dalam waktu dekat, jelas Budi, pos SAR Alor akan ditingkatkan statusnya menjadi kantor SAR dan kantor SAR Maumere dari kelas B menjadi kelas A. Dengan begitu kantor SAR Maumere akan ditambah dengan personel dan peralatan.

“Basarnas hadir sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah. Maka kami melakukan pelatihan potensi untuk sinkronisasi dan koordinasi demi mempermudah saat pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan tugas pokok SAR,” jelasnya.

Dengan pelatihan potensi, Basarnas mempunyai data yang pasti, berapa kekuatan potensi SAR di Maumere. Ini penting agar bisa diketahui berapa kekurangan potensi SAR yang bisa di-cover dari pusat.

“Di wilayah kerja kantor SAR Maumere kata Budi, pernah terjadi tsunami tahun 1992 dengan korban sebanyak 1.150 orang,” ungkapnya.

Basarnas pun tambah Budi, telah melakukan operasi pencarian dan pertolongan kepada korban bencana di NTB Juli 2018 dengan korban 20 orang meninggal dunia, 401 luka-luka dan 10.062 rumah rusak.

“Pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat harus hadir dan all out memberikan pertolongan dan bantuan kepada para korban terdampak. Sesuai dengan UU No. 29 tahun 2014, Basarnas selaku instansi pemerintah wajib hadir dalam memberikan pelayanan pada masyarakat di bidang SAR,” ujarnya.

Basarnas merupakan aset daerah dalam mendukung dunia usaha pariwisata. Dalam pelaksanaan operasi SAR, Basarnas dapat melibatkan para anggota pencarian dan pertolongan serta dukungan dan peran serta masyarakat untuk membantu pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan.

“Potensi pencarian dan pertolongan yang dimaksud adalah sumber daya manusia, sarana dan prasarana, informasi dan teknologi. Serta hewan. Ini  yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan,” tuturnya.

Sementara itu, wakil bupati Sikka, Romanus Woga, mengaku, kabupaten Sikka sangat terbantu dengan hadirnya kantor SAR di Maumere. Beberapa kecelakaan laut korban bisa diselamatkan termasuk korban meninggal dunia pun bisa ditemukan.

“Pemerintah bersyukur dengan hadirnya kantor SAR di Maumere. Apalagi kabupaten Sikka merupakan daerah pariwisata dan kepulauan yang memiliki banyak armada kapal penyeberangan,” sebutnya.

Romanus berharap agar para personel SAR bekerja dengan hati dalam melayani korban bencana. Bekerja bersama-sama dalam melakukan pencarian dan pertolongan terhadap korban bencana sesuai motto Basarnas satu untuk semua dan semua untuk satu.

Lihat juga...