hut

Silaturahmi, Tradisi Anak Bangsa yang Baik

Editor: Mahadeva

Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menyampaikan tausyiah pada silaturahmi Idul Fitri 1440 Hijriyah PP Muhammadiyah di aula Ahmad Dahlan Gedung Dewan Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (16/6/2019). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Silaturahmi, adalah tradisi yang sangat baik. Tradisi yang biasa dilakukukan masyarakat saat Idul Fitri tersebut, tidak bisa dilihat di negara-negara lain. 

“Halalbihalal atau silaturahmi ini khas kita. Ini lebih ke khazanah budaya yang perlu dilestarikan karena banyak manfaatnya,” kata Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, pada silaturahmi Idul Fitri 1440 Hijriyah, PP Muhammadiyah di aula Ahmad Dahlan Gedung Dewan Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Menurutnya, umat Islam merayakan Idul Fitri, sebagai hari kemenangan setelah menjalankan puasa selama satu bulan lamanya. Dadang menyebut, Rasulullah mengatakan, orang yang berpuasa itu pasti akan meraih kegembiraan.

“Kebahagian dari Idul Fitri itu, kita meluapkan kegembiraan yang luar biasa. Bisa mudik ke kampung halaman meskipun macet, tetap senang. Ini suatu mobilisasi massa yang luar biasa pada lebaran. Dan tidak bisa dibayangkan energi yang kita pakai untuk meluapkan kegembiraan itu,” tandasnya.

Dadang menyebut, apa yang dilakukan tersebut merupakan refleksi dari ayat Alquran, yaitu, setelah kesusahan ada kebahagiaan atau kemudahan. Dan dalam sejarah, kesuksesan itu dimulai dari kesusahan.

“KH Ahmad Dahlan, dulu betapa susah Beliau mendirikan Muhammadiyah ini. Sampai Beliau menggelar bazar di rumahnya, semua peralatan rumah dikeluarkan hanya untuk menyantuni guru-guru yang saat itu tidak bisa dibayar karena kas sekolah menipis,” jelas Dadang.

Kisah lain, kesengsaraan Nabi Muhammad SAW, saat melakukan hijrah ke Madinah juga dilewati dengan susah. Dan siapapun umatnya, kaum muslimin, meraih kebahagian itu dengan melewati bersusah terlebih dulu.

Dadang mencontohkan kisah seorang profesor ahli matematika berusia 85 tahun yang menjadi mualaf. Berkali-kali, ia membaca Alquran dalam terjemaah bahasa Inggris. “Sampai 20 kali bolak-balik baca Alquran, dia sangat tertarik,” ujarnya.

Ada tiga cara untuk bisa meraih kebahagian. Yang pertama, harus belajar untuk menambah pengetahuan. “Orang beriman tanpa ilmu pengetahuan akan tersingkir. Karena ciri orang beriman itu adalah berpengetahuan, pintar dan cerdas,” tandasnya.

Rasulullah bersabda, orang cerdas itu adalah orang yang tahu akan mati dan mempersiapkan kematian itu dengan baik. Orang bodoh, adalah orang yang mengurusi dunia dengan memperbanyak kehidupan dunia, seolah dia tidak akan mati. “Kehidupan di dunia ini hanya sebentar. Sedangkan kehidupan di akhirat itu panjang luar biasa. Orang baik dan cerdas bisa memilih mana jalan ketaqwaan dan kenistaan,” tukasnya.

Umat Islam disebut Dadang, harus sanggup menderita. Tanpa penderitaan tidak mungkin kita akan meraih kebahagiaan. Kalau umat Islam merasa tidak diawasi oleh Allah SWT, maka akan terpecah jiwa dengan kehidupannya.

Lihat juga...