hut

Siswa Pelaku Penganiayaan di SMK Bina Maritim Terancam Dikeluarkan

Editor: Mahadeva

MAUMERE –  Video perpeloncoan siswa SMK Pelayaran Bina Maritim Maumere, yang beredar luas di media sosial, mendorong pihak sekolah mengambil sikap tegas.

Keempat siswa pelaku penganiyaan dalam video berdurasi 29 detik tersebut, terancam dikeluarkan dari sekolah. Dua siswa masing-masing YRB dan RF sebagai pelaku penganiayaan, DMD yang merekam video, dan AAN yang menaruh video di history WhatsApp.

Kepala sekolah pelayaran SMK Bina Maritim Maumere Minsri Sadipun.Foto : Ebed de Rosary

“Keempat siswa ini kami akan keluarkan dari sekolah karena perlakukan mereka telah mencoreng nama baik sekolah. Keputusan dari pihak sekolah sudah final,” sebut Kepala Sekolah Pelayaran SMK Bina Maritim, Maumere, Minsri Sadipun, Rabu (12/6/2019).

Minsri menyebut, siswa yang membuat video dan menyebarkannya juga ikut dikeluarkan. Bila tidak merekam dan menyebarkan, tentu tidak akan menjadi viral dan separah ini kejadiannya. Pihak sekolah juga tidak mengetahui aksi perpeloncoan tersebut. “Kami dari sekolah juga kaget setelah videonya viral dan jadi perbincangan di media sosial, kami juga tidak mengetahuinya. Ini kejadian pertama kali setelah 20 tahun sekolah ini berdiri,” tegasnya.

SMK pelayaran Bina Maritim disebut Minsri, memiliki aturan tertulis bagi para siswa untuk tidak melakukan kekerasan terhadap sesama siswa. Apabila ada siswa yang mengalaminya, maka harus segera melapor. Selama ini belum ada yang melaporkan kejadian tersebut.

“Selama ini tidak ada siswa yang melaporkan adanya aksi kekerasan dari siswa senior. Kejadian tersebut memang berlangsung di luar lingkungan sekolah sehingga kami juga tidak mengetahuinya,” sebutnya.

Getrudis Ola orang tua YRB, yang melakukan penganiayaan menyebut, anaknya tersebut sejak kecil ditabrak angkutan kota di Waioti. Dokter yang merawat anaknya mengatakan, anaknya akan mengalami gangguan otak, dan memang pembawaan anaknya berbeda dibandingkan ketiga saudaranya.

“Anak saya, waktu berumur empat tahun ditabrak mobil dan dokter katakan dia akan mengalami geger otak. Memang pembawaan anak saya berbeda dibadingkan saudaranya yang lain,” sebutnya.

Getrudis pasarah meminta maaf atas perlakuan anaknya. Dirinya berharap, agar anaknya jangan dikeluarkan dari sekolah, karena akhir Juni 2019 siswa kelas II termasuk anaknya akan menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). “Saya meminta maaf kepada para korban dan keluarganya atas perlakukan anak saya. Juga kepada pihak sekolah. Memang anak saya memiliki pembawaan agak lain setelah ditabrak,” ujarnya.

Getrudis berharap, pihak sekolah bisa mengambil jalan perdamaian. Dirinya berharap, agar pihak kepolisian bisa memfasilitasi penyelesaian secara kekeluargaan demi masa depan anak-anak yang masih sekolah.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!