hut

Soal Terima Uang Pokja di Sikka Tegaskan tak Benar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Permasalahan soal adanya pernyataan dari sekretaris dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) kabupaten Sikka bahwa kontraktor telah memberikan sejumlah uang yang jumlahnya puluhan juta rupiah kepada Kelompok Kerja (Pokja) tidak benar.

“Soal pernyataan bahwa saya menerima uang sebesar puluhan juta rupiah, saya pastikan itu tidak benar. Saya juga sudah dipanggil untuk diperiksa Inspektorat kabupaten Sikka,” sebut Berto Tjeme, Pokja dan staf pada Bagian Pengadaan Barang dan Jasa kabupaten Sikka, Kamis (20/6/2019).

Kantor Bagian Pengadaan Barang atau Jasa kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Berto, dirinya sudah dimintai keterangan oleh Inspektorat kabupaten Sikka. Mengenai hasilnya, dirinya tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskan karena masih dalam tahap pemeriksaan.

“Persoalan rekaman tersebut terus terang saya dan keluarga merasa terganggu. Tapi sudahlah. Sebenarnya soal nama baik saya,  sudah konsultasi dengan keluarga, apakah diteruskan ke proses hukum atau tidak,” tuturnya.

Berto katakan, masih menunggu proses perkembangan ke depan bagaimana. Alasan kenapa oknum JJ marah dan memaki, dirinya mengaku tidak tahu dan itu urusan JJ. Tapi alasannya kalau temannya memberikan uang kepada dirinya, itu tidak benar.

“Selama saya menjadi pegawai negeri rekening tabungan saya hanya ada dua. Satu rekening di Bank NTT dan satunya di Kopdit Obor Mas. Di rekening saya hanya tersimpan gaji, honor saya dan kalau perjalanan keluar daerah ada kelebihan saya setor ke sana,” ungkapnya.

Sambil memegang buku rekening Bank NTT, Berto menunjukan kepada awak media dan mengatakan dirinya baru pulang prin buku tabungan. Baru-baru ini dirinya menjual drone dan dibeli anggota polisi di Manggarai sebesar Rp12 juta.

“Informasi bahwa ada transfer sebesar puluhan juta rupiah itu tidak benar. Bisa ditanyakan kepada orang yang memberikan pernyataan tersebut bahwa saya menerima uang puluhan juta melalui transfer. Ini saya ada bukti buku tabungan,” tegasnya.

Berto pun mengaku tidak memberikan nomor rekeningnya kepada siapa pun kecuali kepada anggota polisi di Manggarai yang membeli drone miliknya. Uang yang masuk setiap bulan ke rekening miliknya pun jumlahnya hampir sama dan paling besar uang pembelian drone.

“Sejak menjadi Pokja, sejak dulu baru kali ini saya mengalami masalah. Tak satu pun paket pengerjaan proyek yang saya tangani sejak tahun 2013 yang mengajukan sanggahan. Kita selalu memberikan informasi yang jelas, silakan tanya kepada kontraktor,” tegasnya.

Dengan langsung menyebut nama dan jumlah uang yang diterima, kata Berto membuatnya sangat terganggu. Adanya permasalahan ini pun membuat dirinya tidak fokus bekerja.

“Kalau ada bukti dan mau memproses saya secara hukum, silakan. Bahkan dikonfrontir secara langsung malah lebih bagus lagi biar lebih terbuka. Saya tidak pernah tahu teman kontraktornya seperti apa,” tuturnya.

Pit Jelalu, tokoh masyarakat yang juga mantan anggota DPRD Sikka mengatakan, dirinya hanya mengharapkan agar kasus ini tunggal bukan jamak. Dalam arti jangan sampai cerita gunung es terjadi.

“Maka kalau cerita gunung es terjadi saya rasa itu awal karya bupati yang baru terpilih sangat buruk. Kita sebagai masyarakat coba bahu membahu agar daerah ini tetap berwibawa,” pintanya.

Pit juga berharap agar kabupaten Sikka tetap berkualitas dalam penampilan. Terutama sebutnya, terkait dengan perubahan-peruahan yang signifikan yang bisa dirasakan masyarakat banyak.

Lihat juga...