Tambak Semi Intensif, Solusi Budi Daya Vaname Dikala Kemarau

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Aktivitas tambak udang di Lampung Selatan terdampak kemarau. Sejumlah petambak, memilih mengeringkan lahan karena suhu udara yang cukup tinggi.

Meski demikian, ada petambak yang mencoba menerapkan sistem semi intensif, agar kegiatan budi daya udang masih bisa beroperasi. Hal tersebut berbanding terbalik dengan tambak tradisional, yang banyak diistirahatkan aktivitasnya. Wardoyo, petambak udang putih atau vaname (Litopenaeus Vannamei) menyebut, dengan dukungan fasilitas mesin pompa, pasokan air masih memadai untuk budi daya.

Wardoyo, pemilik tambak di Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Saat kemarau Wardoyo menyebut, petambak sebetulnya tidak mengalami kekurangan air. Namun, imbas kondisi cuaca, udang vaname rentan terserang penyakit Myo dan White Spot (WS). Pola sirkulasi air yang kurang memadai, menjadi penyebab hal tersebut.

Dampaknya, petambak memilih mengeringkan kolam, dan sebagian beralih ke budi daya ikan nila, yang tidak membutuhkan perawatan rumit dibandingkan udanh vaname.”Petambak memilih menerapkan sistem kincir air agar bisa mengatur sirkulasi air penyuplai oksigen sehingga udang vaname bisa tumbuh meski dalam kondisi cuaca ekstrim,” tandas Wardoyo kepada Cendana News, Jumat (21/6/2019).

Di empat petak tambak yang dimiliki, Wardoyo menebar sekira 2.000 bibit. Dalam kondisi normal, Dia bisa memperoleh hasil minimal sekira dua kuintal udang. Intensifikasi tambak dilakukan dengan memanfaatkan kincir air dan penggunaan nano bubble untuk mensuplai oksigen.

Hal itu dibutuhkan agar pertumbuhan udang bisa maksimal. Meski demikian, tingkat kematian udang bisa meningkat akibat suhu udara yang panas. Tambak semi intensif diakui Wardoyo mulai umum dilakukan oleh petambak. Meski untuk melakukannya, petambak harus mengeluarkan biaya ekstra untuk listrik, operasional perawatan, pakan dan obat obatan. Sistem intensif dinilai masih bisa menghasilkan keuntungan, dibanding dengan cara tradisional.

Petambak lain, Baim, menyebut, di daerah Kecamatan Sragi, banyak petambak menerapkan sistem semi intensif. Petambak modern menggunakan kincir ukuran besar, petambak semi intensif memanfaatkan kincir sistem bagongan dan kincir ukuran kecil.

Tanpa sirkulasi air yang baik, udang memiliki potensi terserang penyakit jenis myo dan WS. “Penyakit rentan muncul akibat perubahan cuaca, suhu tinggi namun penanganan yang baik justru bisa membuat musim kemarau menghasilkan udang cukup baik,” beber Baim.

Lihat juga...