hut

Tekan Angka Stunting di Malang, FK UB Berikan Pendampingan

Editor: Mahadeva

MALANG – Stunting, hingga saat ini masih menjadi permasalahan tersendiri di Malang. Peran dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi sangat diperlukan.

Perguruan Tinggi diharapkan dapat memberi pendampingan masyarakat dalam upaya menyelesaikan permasalahan stunting. Di Kabupaten Malang, angka stunting tercatat saat ini cukup tinggi, mencapai 18 persen.

Plt Bupati Malang , Muhammad Sanusi – Foto Agus Nurchaliq

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang, Muhammad Sanusi, menyebut, stunting di kabupaten Malang disebabkan karena gizi yang tidak tercukupi. “Jadi penyebabnya bukan karena kurang gizi, tetapi karena gizi yang tidak cukup, sehingga perkembangannya lambat,” tandasnya, dalam workshop persamaan persepsi pelaksanaan program pendampingan penanganan stunting di Kabupaten Malang, di gedung Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya, Kamis (27/6/2019).

Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh dinas kesehatan. Dibutuhkan peran dari berbagai pihak terkait, termasuk peran serta dari perguruan tinggi. Saat ini Pemkab Malang bekerja sama dengan FK Universitas Brawijaya untuk mengatasi stunting.

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya akan melakukan diagnosa, kemudian menentukan treatment yang harus dilakukan. “Tidak hanya satu atau dua kecamatan saja yang kita tangani stuntingnya, tetapi di semua 33 kecamatan yang terdeteksi ada stunting akan segera kita tangani,” ucapnya.

Sanusi menyebut, selama ini pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting. Salah satunya dengan memberikan makanan tambah. “Kemarin ada beberapa kecamatan di kabupaten Malang terdeteksi stunting. Kemudian kita berikan makanan tambahan, dan Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang sembuh dan normal kembali,” terangnya.

Ketua Pelaksana Pendampingan, Dr. Diadjeng Setya Wardani,. SSiT , M.Kes, menyebut, FK UB telah mendapatkan bantuan dana dari Kementerian Kesehatan, untuk melakukan pendampingan masalah stunting di kabupaten Malang.

Selama ini, penanganan stunting langsung terfokus pada penderita. Tetapi untuk saat ini disusun perencanaan pendampingan. Mulai dari ibu hamil yang akan langsung diberi pendampingan gizi, sampai dengan kegiatan persalinan, nifas hingga anak berusia 2 tahun.  “Kita menjamin, asi eksklusif. Karena asi eksklusif ternyata juga merupakan salah satu faktor determinan Penyebab stunting itu sendiri,” urainya.

Disampaikan Diadjeng, di tahun pertama ini, penanganan stunting difokuskan di 10 desa yang tersebar di sembilan kecamatan. “Kami menawarkan 8 Program untuk penanganan stunting yang salah satunya adalah program Sekolah Sehat Sadar Gizi (Sahati),” tandasnya.

Dekan FK UB, Dr. dr. Wisnu Barlianto, MSiMed, SpA(K), menyebutm siap menurunkan tenaga kesehatan dari lintas program studi untuk mendukung program tersebut. Termasuk menerjunkan mahasiswa untuk melalukan pendampingan. “Mungkin nanti tenaganya yang kita terjunkan lebih dari 20 orang serta melibatkan mahasiswa,” katanya.

Program pendampingan stunting di Kabupaten Malang dimulai Juli 2019 hingga akhir tahun. Program ini adalah program multi years. “Sekarang adalah tahap pertama, kemudian nanti akan dilanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya, di tahun-tahun selanjutnya sampai semua kecamatan di Malang bisa bebas stunting,” tutupnya.

Lihat juga...