hut

Terapi Kepret Enggal Waras Diminati Warga  Bekasi

Editor: Mahadeva

Eko Setiawan, sang trapis Kepret Enggal Waras menggunakan media yang ia beri nama Kayu Telagasari, melakukan terapi kepada pasien yang menderita berbagai macam penyakit seperti stroke, asam urat dan urat kejepit – Foto M Amin

BEKASI – Pengobatan alternatif terapi Kepret Enggal Waras, di Tambunselatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, banyak diminati masyarakat.

Hal tersebut membuat sang terapis, Eko Setiawan, harus keluar daerah mengobati pasien penderita stroke, asam urat dan urat kejepit. “Masalah harga, sekali terapis sebenarnya tidak dipatok, dan kalau tidak mampu nggak bayar kita ikhlas,” kata Eko Setiawan sang trapis kepret, di rumahnya Kampung Buek, Pertigaan Kandang, Desa Sumberjaya, Tambunselatan, Kabupaten Bekasi, Jumat (14/6/2019).

Saat menangani pasien, Eko menggunakan alat berbentuk kayu yang dinamakannya Kayu Telagasari. Kayu ditempelkan ke panderita stroke, asam urat atau urat kejepit. Setelah terapi, pasien akan diberi ramuan khusus.

Kayu Telagasari tersebut akan terasa panas saat ditempelkan di kulit penderita stroke. Fungsi kayu Telagasari sebagai media untuk mengangkat peredaran darah yang beku atau mengembalikan saraf kejepit.

Disamping menggunakan media kayu, teknik lain yang digunakan adalah tenaga dalam. “Terapi Kepret Enggal Waras, menjamin pasien akan langsung merasakan perubahan baik penderita stroke, asam urat, atau urat kejepit. Tidak sedikit pasien yang tidak bisa berjalan karena stroke langsung bisa melangkahkan kaki setelah memgikuti terapi Kepret Enggal Waras,” ungkap Eko.

Sekali mendapatkan penanganan, pasien akan langsung merasakan khasiat. Tidak sedikit yang langsung sembuh total. Pasien yang datang tidak dibatasi usia. Namun demikian, Eko membatasi sehari hanya enam orang pasien yang ditangani. Hal tersebut, karena keterbatasan tenaga terapis yang hanya ditangani berdua dengan isterinya.

Pengobatan stroke, asam urat, urat kejepit dengan menggunakan media kayu Telagasari, sudah ditekuni Eko sejak 2002 silam. Sebelumnya, Eko mengikuti lembaga untuk melakukan pengobatan dari Kampung ke Kampung.

“Sebenarnya, saya tidak mematok bayaran bagi warga yang tidak mampu dianggap nilai ibadah. Tapi terkadang banyak warga ekonomi menengah keatas ikut terapi seenaknya saja. Maka bagi yang mampu saya mematok harga Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” papar Eko.

Memasang tarif tertentu bagi mereka yang mampu, dimaksud untuk membatasi jumlah pasien. Tetapi pada waktu tertentu, pengobatan digratiskan untuk semua pasien yang datang.

Lihat juga...