Tingkatkan Perlindungan Anak, KPAI Lakukan Pendekatan Kesehatan

Editor: Mahadeva

Komisioner Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) KPAI  DR. (Cand) Sitti Hikmawatty, S.St, M.Pd  - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Kasus kekerasan pada anak, banyak digambaran bak fenomena gunung es. Terlihat tidak besar di permukaan, tetapi di bagian bawah tersimpan banyak masalah yang tersembunyi.

Banyak dari kasus kekerasan sama sekali tidak dilaporkan dengan berbagai alasan. Hal itu mendorong Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), untuk melakukan pendekatan dan bekerjasama dengan kepada institusi kesehatan.

Komisioner Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) KPAI, DR. (Cand) Sitti Hikmawatty, S.St, M.Pd, menyatakan, inisiatif untuk melakukan kerja sama tersebut, agar dapat mencapai para korban melalui analisa medis.

“Basis data yang ada di KPAI saat ini semuanya berdasarkan laporan. Kita menyadari ada potensi kasus-kasus yang tidak dilaporkan. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menjalin kerja sama dengan para dokter yang mengerti tentang tanda-tanda akibat perlakuan kekerasan pada pasiennya,” kata Sitti saat ditemui di KPAI Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Sitti menyebut, kecenderungan kasus kekerasan tidak dilaporkan, karena keluarga atau korban merasa, kasus tersebut sebagai aib. “Mereka menganggap hal ini perlu ditutupi. Jangan sampai khalayak tahu. Tapi, kalau tenaga medis bisa mengetahui ini. Mereka mengerti, mana bekas luka karena terjatuh, atau mana yang terkena pukulan benda tumpul,” ujarnya.

Salah satu kasus yang pernah ditangani adalah, kasus seorang anak perempuan yang didiagnosa memiliki gangguan pada lambung. Namun setelah diperiksa, ternyata mengalami kekerasan seksual semenjak umur tiga hingga empat tahun.

“Awalnya anak perempuan ini masuk karena adanya gangguan pada lambung. Tapi setelah melihat catatan medisnya, yang mencantumkan riwayat perawatan atas berbagai kejadian medis, maka pihak rumah sakit menyampaikan hal ini kepada KPAI. Setelah dilakukan analisa dan pendekatan, baru diketahui kalau anak perempuan ini memiliki depresi yang mendorongnya untuk melakukan percobaan bunuh diri hingga 20 kali. Dan penyebabnya adalah kekerasan seksual oleh kakeknya sejak dirinya kecil dan setelah kakeknya tidak ada dilanjutkan oleh ayahnya,” papar Sitti.

Pendekatan kesehatan menurut Sitti, adalah kerja sama dengan institusi kesehatan, baik instansi milik pemerintah maupun swasta. Utamanya, untuk menyampaikan informasi kepada petugas KPAI jika diagnosa menemukan luka atau cedera yang kemungkinan disebabkan oleh pihak lain secara sengaja.

Luka tersebut diperoleh karena untuk menyakiti dengan atau tanpa menggunakan alat apa pun. “Belum lama ini, kami baru saja memberikan penghargaan pada RSUD Karawang untuk kerja samanya pada kasus bayi Calista yang meninggal akibat dianiaya oleh ibunya,” ucap Sitti.

Kerja sama tersebut tidaklah melanggar kode etik kedokteran. Karena permintaan keterlibatan KPAI, akan dilakukan oleh instansi medis jika setelah dilakukan penangan keluhan dan penelitian, terlihat kecenderungan cedera bukanlah sebagai akibat hal yang wajar.

“Sejauh ini kerjasama sudah kami lakukan dengan banyak rumah sakit. Awalnya memang Jabodetabek. Kita tanya apakah mereka bersedia dan juga menjelaskan kepada pihak rumah sakit, mengapa KPAI harus turut campur pada beberapa kasus yang berkaitan dengan anak. Dan kita juga komunikasikan dengan mereka apa saja hak anak. Pada prinsipnya, para pihak rumah sakit menerima baik,” urai Sitti.

Lihat juga...