hut

TKBM Pangkalbalam Libur Pada H-3 Lebaran

Suasana mudik di Pelabuhan Pangkalanbalam - Foto Ant

PANGKALPINANG – Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Pangkalbalam, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sudah libur bekerja pada H-3 Lebaran.

“Ketua TKBM melaporkan, terhitung H-3 hingga +3 lebaran, seluruh pekerja bongkar muat libur,” kata Kepala KSOP Pangkalbalam, Izuar, Minggu (2/6/2019).

Meski para pekerja bongkar muat libur, aktivitas bongkar muatan kapal kargo tetap berjalan. Kegiatan bongkar muat tetap belangsung hingga hari H lebaran Idul Fitri. “Kita berharap dengan liburnya pekerja bongkar muat, tidak mengganggu ketersediaan sembako di masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pada pertemuan yang dilakukan, Ketua TKBM juga menyatakan kesiapannya untuk kembali bekerja apabila terjadi kondisi darurat. Misalnya, terjadi kelangkaan kebutuhan pokok di tengah masyarakat.

TKBM juga siap membongkar dan mendistribusikan kebutuhan pokok masyarakat yang mengalami kelangkaan tersebut. “Nanti pekerja nonmuslim akan membongkar sembako muatan kapal yang mengalami kelangkaan dan kenaikan harga menjelang lebaran nanti,” katanya.

Ia memastikan tidak akan terjadi kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat. Jauh-jauh hari, para pengusaha telah memperbanyak stok sembako. “Kita juga telah memantau dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, terkait stok dan harga sembako menjelang lebaran tahun ini yang masih relatif stabil,” katanya.

Sementara itu, KSOP Pangkalbalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membatasi jumlah truk di kapal penumpang, karena melonjaknya calon penumpang yang menggunakan moda transportasi laut itu selama arus mudik Lebaran 2019. “Saat ini kita mengurangi truk muatan kapal roro tujuan Jakarta,” tambah Izuar.

Kebijakan pengurangan jumlah truk yang dimuat dengan kapal penumpang, mengingat arus mudik terhitung pada H-7 Lebaran yang mengalami peningkatan cukup signifikan. “Maksimal hanya 10 truk muatan di kapal penumpang tersebut, biasanya kapal roro tersebut membawa 30 hingga 40 truk,” jelasnya.

Contohnya, KM Srikandi yang berangkat dari Pelabuhan Pangkalbalam tujuan Jakarta, membawa 500 penumpang dan hanya diperbolehkan mengangkut 10 truk. Kendaraan tersebut ditempatkan di lantai pertama kapal, sedangkan lantai dua untuk penumpang. “Biasanya lantai dua kapal ini digunakan untuk truk, namun selama arus mudik ini digunakan untuk penumpang,” katanya.

Apabila tidak ada pengurangan jumlah truk, dikhawatirkan terjadi penumpukan penumpang di terminal pelabuhan. Hal itu rawan kecelakaan di laut selama arus mudik tahun ini. “Kebijakan ini hanya berlaku selama arus mudik saja. Pada hari biasa, operator kapal bisa kembali memuat truk bermuatan berbagai kebutuhan pokok yang disesuaikan dengan kapasitas kapal roro tersebut,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...