Topi Bambu, dari Sekedar Kebutuhan Petani Hingga Jadi Hiasan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LOMBOK — Kalau tempo dulu, topi bambu banyak dijadikan sekedar sebagai alat pelindung kepala petani dari sengatan terik panas matahari saat bekerja mengelola lahan pertanian. Namun saat ini, banyak dijadikan sebagai hiasan dan ornamen di tempat wisata, seperti perhotelan, rumah makan dan tempat wisata lain.

Pemilik kerajinan topi bambu, Desa Gunung Sari, Lombok Barat, Ferial mengatakan, dengan kemajuan sektor pariwisata NTB sekarang, hasil kerajinan lebih memiliki nilai jual sebagai hiasan di tempat wisata seperti perhotelan hingga kafe.

Memberikan nuansa seni keindahan, topi bambu yang dipajang biasanya dicat atau digambar sesuai ciri khas Lombok.

“Sebagai menarik pengunjung agar bertahan lebih lama di sebuah kafe, si pemilik terkadang menjadikannya sebagai tempat menaruh lampu, supaya kelihatan lebih indah dan artistik,” katanya di Lombok, Selasa (18/6/2019).

Langkah tersebut dinilai efektif, karena penjualan sekarang tidak lagi sekedar kerajinan biasa dan juga penjualannya tidak lagi hanya di pasar tradisional.

“Tapi bisa dilakukan dari rumah, dengan target pembeli pelaku pariwisata dan wisatawan, dengan harga jual yang tentunya lebih kompetitif,” katanya.

Dikatakan, kalau dijual di pasar tradisional untuk kebutuhan pertanian, paling laku Rp.30.000 hingga Rp.35.000 per biji, sementara kalau dijual untuk kebutuhan hiasan tempat wisata, harganya bisa Rp40.000 hingga Rp50.000

Suparlan, pengerajin lain mengatakan, selain menjual kerajinan topi bambu untuk kebutuhan pernak pernik tempat wisata, dirinya mengaku tetap juga tetap menjual untuk kebutuhan topi petani ke sawah.

Mengingat, meski harga jual untuk kebutuhan hiasan tempat wisata lebih mahal, tapi penjualan tidak selancar menjual kepada petani di pasar tradisional, karena banyak saingan.

Lihat juga...