Tradisi Nyekar Usai Salat Ied di Banyumas Masih Bertahan 

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS – Seiring perkembangan zaman, banyak hal yang mengalami perubahan. Namun beberapa tradisi dalam perayaan Hari Raya Idulfitri dio Banyumas masih banyak yang dipertahankan, salah satunya tradisi nyekar usai salat Ied. 

Usai salat idulfitri, sejak pagi hingga siang hari sejumlah kompleks pemakaman dipadati warga. Di pemakaman umum Keboetoeh, misalnya, ratusan warga memadati pemakaman yang luasnya dua hektare lebih tersebut.

Pemakaman yang terletak di Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, merupakan pemakaman terbesar yang sudah ada sejak 1831.

Ambar, peziarah -Foto: Hermiana E. Effendi

Warga berbondong-bondong datang bersama keluarga, kemudian berziarah di makam kerabat. Di antara mereka banyak yang membawa buku Yasin dan membaca bersama-sama di depan makam. Biasanya, warga berziarah di lebih dari satu makam.

Salah satu peziarah, Ambar, mengaku ia dan keluarga berziarah di delapan makam, karena seluruh keluarga yang sudah meninggal dimakamkan di lokasi tersebut.

Ambar membawa sapu lidi untuk membersihkan makam, serta bangku kecil untuk duduk.

“Di sini ada makam kakek-buyut, kemudian makam eyang dan embah serta bapak mertua saya, jadi banyak yang kita ziarahi. Seluruh keluarga besar makamnya di sini,” tuturnya, sambil membersihkan makam.

Sebelumnya, makam-makam tersebut sudah dibersihkan saat memasuki bulan puasa. Namun, saat Lebaran, pihak keluarga biasanya tetap membersihkan kembali makam.

“Ada jasa pembersih makam di sini, dan rata-rata makam sudah dibersihkan oleh petugas tersebut. Tapi, biasanya kita tetap membawa alat kebersihan seadanya, seperti sapu,” kata Ambar.

Usai membersihkan makam, mereka mulai duduk atau sebagian jongkok memutari makam dan membacakan Surat Yasin bersama-sama.

Suara lantunan ayat-ayat suci menggema di tiap sudut area pemakaman. Suasana haru tampak menyelimuti para pengunjung makam. Sesekali ada yang terlihat menghapus tetesan air mata.

“Lebaran itu tidak hanya saat untuk saling memaafkan antarsesama muslim yang masih hidup, tetapi juga saatnya kita mengingat, bahwa suatu saat kita akan meninggalkan dunia fana ini, dengan cara menengok kerabat yang sudah mendahului mereka dan mendoakannya,” kata Ibu Rusmiyati.

Lihat juga...