hut

Tutut Soeharto: Selamatan Pindah Rumah, Lestarikan Budaya Jawa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Dalam kepercayaan leluhur zaman dahulu, pindah rumah tidaklah sekadar dianggap sesuatu yang sederhana.

Pindah rumah menurut budaya Jawa bukan berarti memindahkan perabotan rumah tangga dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi juga bisa dianggap sebagai berpindahnya segala hubungan pemilik rumah dan keadaan spiritual ke tempat yang berbeda.

Karena hal itu, maka saat seseorang hendak pindah rumah maka dia diharuskan untuk memilih tanggal dan hari yang baik untuk mulai mengangkut barang perabotannya.

Siti Hardijanti Rukmana atau akrab pula disapa Mbak Tutut, mengadakan acara selamatan pindah rumah anak pertamanya, yakni Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana.

Mbak Tutut, Mbak Danty dan suaminya memanjatkan doa dalam acara pindah rumah bersama ibu-ibu majelis taklim – Foto: M. Fahrizal

Acara pindahan rumah diawali pengajian di kediaman baru Mbak Danty oleh ibu-ibu majelis taklim dengan pembacaan surat Yasin, tahlil, dan doa-doa dilantunkan dengan tujuan agar rumah baru Mbak Danty dan keluarga selalu barokah, selalu mendapatkan perlindungan Allah SWT.

Mbak Tutut dalam sambutannya menyampaikan, acara pindahan rumah dengan tradisi adat Jawa memiliki pesan moral yang baik untuk mereka yang ingin menempati rumah baru. Pesan yang terkandung yakni ajaran agama Islam juga termaktub di dalamnya.

“Semuanya itu ditujukan untuk memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menjaga dan melindungi keluarga,” ucapnya, Jumat (21/6/2019) di kediaman baru Mbak Danty.

Mbak Tutut berpesan agar tradisi budaya Jawa ini terus dijaga, dilestarikan, agar bisa dilanjutkan oleh generasi yang akan datang dan tidak punah.

R.M.T. Agus Surindra, saudara Mbak Danty dari Solo menceritakan perihal tata cara dan urutan pindahan rumah menurut adat Jawa.

Prosesi menyapu menggunakan sapu lidi untuk membersihkan jalan. Agar perjalanan pindah rumah lancar, tanpa ada halangan. Foto: M. Fahrizal

Dikatakan Agus,  calon penghuni rumah baru, melakukan prosesi pindah dari rumah lama ke rumah baru dengan membawa perlengkapan seperti sapu lidi untuk membersihkan jalan. Maksudnya agar perjalanan pindah rumah lancar tanpa ada halangan.

Calon penghuni rumah dalam hal ini Mbak Danty juga menggendong benih atau bibit beras, padi-padian, dan kacang hijau yang ditaburkan ke sekeliling rumah. Mengandung arti agar penghuni rumah memiliki keturunan yang baik, bagus.

Sementara M. Ali Reza. N, suaminya, membawa air dalam kendi dan lampu sentir. Mengandung arti lampu tersebut sebagai penerang jalan. Air dalam kendi yang dikucurkan ke sekeliling rumah melambangkan agar rumah baru menjadi dingin, adem, sejuk.

Ada pula pisang raja yang melambangkan nantinya penghuni rumah menjadi raja yang baik. Dan prosesi terakhir yang dilakukan oleh penghuni rumah baru, yakni menanam penolak energi negatif di empat penjuru, serta di atas rumah.

“Tikar, sulak, ijuk, bantal, guling, dibawa ke dalam rumah. Diharapkan membawa kebahagiaan dalam rumah tangga, memberikan kelengkapan, memberikan nuansa rumahku surgaku,” pungkas Mbak Tutut.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!