hut

Warga Pangkalpinang Lestarikan Tradisi Bertandang

Tradisi "bertandang" masih kental di Pangkalpinang, Bebel, dalam rangka menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri, Kamis (6/6/2019) - Foto Ant

PANGKALPINANG – Sejumlah warga di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masih mempertahankan kegiatan saling bertandang. Kegiatan tersebut biasa dilakukan dengan berjunjung ke rumah kolega. Hal itu biasa dilakukan, dalam rangka merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1440 Hijriah.

“Setelah melaksanakan Salat Idul Fitri, kami melanjutkan kegiatan saling kunjung bersilaturahim atau bertandang ke rumah kolega, keluarga dan tetangga,” kata Saimi, seorang warga Pangkalpinang, Kamis (6/6/2019).

Bersilaturahmi ke rumah kolega, dan saling berjabattangan di hari yang fitri, menjadi momentum yang sudah biasa dilakukan di negeri ini. Namun, khusus di Pangkalpinang kegiatan saling tandang berlangsung cukup lama yaitu bisa mencapai satu minggu.

“Bertandang di Pangkalpinang menjadi rutinitas tahunan di Hari Raya Idul Fitri dan bahkan sudah menjadi tradisi, dimana setiap warga membuka pintu rumah selama 24 jam bagi masyarakat yang ingin bertandang di hari kemenangan,” ujarnya.

Riskiandri, warga yang lain mengatakan, kendati kehidupan di Kota Pangkalpinang mengikuti perkembangan zaman. Namun, kegiatan tradisi bertandang tidak lekang oleh waktu. “Ini seolah sudah menjadi tradisi, bahkan sudah melekat di pikiran masyarakat bahwa saling bertandang sudah menjadi suatu keharusan sehingga ada rasa malu jika tidak membuka pintu rumah beberapa hari dalam bulan Syawal,” ujarnya.

Paiman, seorang warga perantau yang sudah lama menetap di Kota Pangkalpinang, pada awalnya mengaku merasa heran melihat berlebaran di Pulau Bangka begitu semarak. “Praktis setiap rumah warga selalu ramai didatangi warga lainnya dalam kegiatan bertandang, bahkan ruas jalan cukup ramai dilewati kendaraan berlalu lalang oleh warga pergi bertandang,” ujarnya.

Menurut Dia, kegiatan bertandang di Pangkalpinang memiliki nilai sangat positif. Warga saling kunjung dan bersilaturahmi, sehingga terbangun komunikasi yang baik. “Di dalam Islam tentu itu sangat dianjurkan, namun ada sisi lain terkadang harus menjadi perhatian karena warga harus merogoh kantong cukup dalam untuk menyiapkan kegiatan bertandang,” ujarnya.

Warga kota itu terkadang harus mengeluarkan uang mencapai puluhan juta, untuk membeli anekt makanan dan kue dan membeli berbagai peralatan rumah untuk menyambut tamu yang bertandang. “Memang di Pulau Bangka harus mengeluarkan uang lumayan banyak karena kegiatan bertandangnya bisa mencapai satu minggu, kalau di daerah lainnya cuma satu hari atau paling lama hanya dua hari,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...