hut

Ziarah Kubur, Tradisi Mengingat Leluhur di Hari Fitri

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Hari raya Idulfitri tidak saja dimanfaatkan sebagai ajang saling silaturahmi antarkeluarga, sanak-saudara, maupun kerabat dan tetangga. Namu, masyarakat juga selalu memanfaatkan momentum Lebaran sebagai ajang untuk mengingat para leluhur. 

Hal itu biasa diwujudkan masyarakat dengan melakukan ziarah ke makam leluhur masing-masing. Kegiatan ziarah kubur semacam ini sudah menjadi rutinitas umat Muslim di Indonesia. Bahkan, menjadi tradisi sehingga tak bisa ditingkalkan warga.

Seperti dilakukan warga masyarakat di Kabupaten Kulonprogo. Seusai melakukan salat Ied dan halalbihalal atau silaturahmi dengan keluarga dan tetangga sekitar, masyarakat biasanya akan pergi ke makam leluhur, baik itu kakek-nenek maupun orang tua masing-masing.

Winaryo (baju putih paling kiri), seorang warga Kulonprogo,  tengah memanjatkan doa di makam leluhur –Foto: Jatmika H Kusmargana

Datang sambil membawa bunga, mereka biasanya akan membersihkan makam secara bersama-sama. Dalam kegiatan bersih-bersih makam inilah, para orang tua biasanya akan menunjukkan silsilah keluarga kepada generasi muda, baik cucu maupun cicit mereka. Hal ini dilakukan agar generasi muda, tahu asal-usul dan tidak melupakan silsilah mereka.

Setelah itu, acara akan diisi dengan pemanjatan doa  kepada leluhur secara bersama-sama, diikuti seluruh anggota keluarga. Doa dipimpin sesepuh atau anggota keluarga tertua, dan diakhiri dengan acara tabur bunga ke nisan atau makam leluhur.

“Setiap lebaran kita selalu rutin ziarah ke makam. Karena sudah menjadi tradisi tiap tahun. Kalau tidak ke makam, rasanya seperti ada yang kurang,” ujar salah seorang warga Temon, Kulonprogo, Winaryo, Rabu (5/6/2019).

Datang bersama rombongan keluarga dan kerabat berjumlah sekitar 25 orang, ia mengaku mengunjungi makam orang tuanya yang berada di kecamatan Pengasih. Seusai melakukan ziarah kubur, rombongan keluarganya pun langsung melanjutkan acara silaturahmi ke kerabat yang lain.

“Kebetulan kita sekeluarga tinggal di Temon, namun orang tua aslinya Pengasih, dan dimakamkan di Pengasih. Jadi, ziarah kubur ke Pengasih,” katanya.

Selain untuk mendoakan arwah orang tua dan leluhur, kegiatan ziarah kubur di momen Lebaran ini juga dilakukan sebagai upaya melestarikan tradisi turun-temurun setiap tahun. Terlebih, tradisi ini memiliki nilai positif, di antaranya senantiasa mengingat dan tak melupakan jasa-jasa para leluhur yang merupakan cikal bakal trah keluraga.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!