hut

2.358 Masyarakat di Padang Alami Penyakit Tuberkulosis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, menyebutkan sepanjang tahun 2018 ada sebanyak 2.358 kasus masyarakat Padang yang dinyatakan mengalami penyakit Tuberkulosis (TB).

Jumlah tersebut diklaim baru 81,7 persen dari target yang diharapkan atas pelaporan masyarakat yakni 2.855 kasus.

Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan, sangat penting untuk mengetahui kondisi penyakit TB. Untuk itu diharapkan betul ada kesadaran masyarakat untuk melaporkan kepada setiap rumah sakit terkait penyakit TB.

Selain itu, pihak terkait juga diharapkan untuk serius melakukan penanganan kasus penyakit TB tersebut.

“Penyakit TB adalah penyakit menular melalui batuk dan bersin yang sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan kematian jika tidak diobati. Di Padang saya ingin kasus penyakit TB ini bisa diselesaikan,” katanya, pada acara Penguatan Tim District Based Public Private Mix (DPPM) Penanggulangan TB di Kota Padang di Hotel Pangeran Beach, Padang, Sabtu (20/7/2019).

Mahyeldi meminta pihak terkait untuk dapat secara serius menangani penyakit TB khususnya di Kota Padang.

Sebagaimana penemuan kasus TB di Kota Padang tahun 2018 berjumlah 2.358 kasus atau 81,7 persen yang terlaporkan dari target 2.855 kasus. Semua kasus mendapatkan pengobatan sesuai standar.

“Angka penemuan kasus TB memang masih belum optimal, sekitar 18,7 persen lagi target yang diberikan perlu ditelusuri keberadaannya. Maka  Pemko Padang melalui Dinas Kesehatan sudah berkomitmen dalam mencapai eliminasi TB tahun 2030,” ujarnya.

Terkait komitmen tersebut, Pemko Padang telah membuktikan dengan sudah adanya Peraturan Wali Kota No. 36 Tahun 2017 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis.

Di samping itu Kota Padang juga sudah mengeluarkan imbauan Wali Kota bulan Maret 2019 kepada semua unsur elemen masyarakat untuk penjaringan kasus terduga TB.

“Maka dari itu, untuk meningkatkan penemuan kasus TB yang terlaporkan, sangat diperlukan penguatan jejaring layanan dengan melibatkan Fasyankes pemerintah maupun swasta. Oleh karenanya, mari kita bersama-sama untuk dapat terlibat aktif dalam menemukan kasus dan melaporkannya kepada dinas kesehatan kota untuk mencapai tujuan Padang Bebas TB 2030,” tegasnya.

Wali Kota Padang dua periode ini menyatakan perlu adanya langkah serius ini, karena melihat kepada angka secara nasional, mengingat Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah penyakit TB di dunia.

Sebagaimana berdasarkan laporan global dari WHO tahun 2017, Indonesia memiliki jumlah kasus baru sebanyak 1.020.000 kasus.

Dari total kasus tersebut, hanya 446.732 kasus TB atau 53 persen yang dilaporkan. Sehingga masih terdapat 395.268 kasus atau 47 persen lagi yang belum ditemukan dan dilaporkan pada tahun 2018.

Dari kondisi tersebut menunjukkan prevalensi TB di Indonesia dan angka penemuan kasus yang terbilang masih rendah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, Merry Yuliesday, menyebutkan, penyakit TB masih menjadi momok di Indonesia. Dari tahun ke tahun, masih ditemukan pasien penderita, termasuk juga di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Merry mengatakan dalam mengeliminasi penyakit TB di setiap kabupaten dan kota, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera telah melakukan beberapa program percepatan, diantaranya gencar terjun ke masyarakat dalam memberikan edukasi dan menginformasikan bahaya TB ini.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pengecekan langsung ke rumah-rumah masyarakat dengan kegiatan ketuk pintu. Serta, program lain yang mengarah langsung ke masyarakat.

Dalam melakukan pencegahan, pihaknya juga memiliki alat pendeteksi TB, yang dinamai Tes Cepat Molekuler. Alat tersebut, merupakan alat revolusi baru yang bekerja mendiagnosis TB. Alat ini akan mendiagnosis cepat kasus TB, yang hanya membutuhkan waktu lebih kurang 2 jam.

“Alat ini akan mendiagnosis penderita TB dengan cepat, sehingga nanti dapat menjadi pemilihan panduan pengobatan yang benar,” katanya.

Menurutnya, alat pendeteksi tersebut juga sudah ada di beberapa rumah sakit di Sumatera Barat. Setidaknya ada tersebar sekitar 21 rumah sakit, serta 6 puskesmas. Artinya, keberadaan alat itu di sejumlah rumah sakit dapat membantu mengantisipasi terjadinya TB.

Lihat juga...