hut

22 Spesimen Otak Anjing dari Sikka Positif Rabies

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — 41 dari 45 spesimen otak anjing asal kabupaten Sikka yang dikirim ke Balai Besar Veteriner Denpasar Bali telah diperiksa, sedangkan sisanya sedang dalam proses pemeriksaan .

Kepala dinas Pertanian kabupaten Sikka, Hengki B. Sali. Foto : Ebed de Rosary

“Dari 41 yang telah diperiksa tersebut, 22 spesimen dinyatakan positif mengandung rabies. Ini yang menyebabkan kabupaten Sikka ditetapkan menjadi wilayah Kejadian Luar Biasa (KLB),” ungkap kepala dinas Pertanian kabupaten Sikka, Hengki B. Sali, Kamis (18/7/2019).

Kasus positif rabies ini cenderung mengalami peningkatan. KLB masa waktunya selama 14 hari dan ditambah lagi selama seminggu atau 7 hari. Langkah yang dilakukan pertama pihak kecamatan melakukan rapat koordinasi persiapan pemberantasan.

“Setelah rapat koordinasi di kecamatan maka dilakukan vaksinasi dan eliminasi pada hewan penular, khususnya anjing. Untuk mencegah terulangnya KLB, tahun 2020 setiap desa dianggarkan dari dana desa Rp15 juta untuk membeli vaksin,” terangnya.

Hengki menyebutkan, saat ini stok vaksin yang tersedia hanya 6 ribu dosis. Stok yang ada ini belum mencukupi untuk melakukan vaksinasi pada anjing di 9 kecamatan rawan, yang jumlahnya diperkirakan 52 ribu ekor.

“Usai penetapan KLB, Dinas Pertanian mendapatkan dana tanggap darurat sebesar Rp500 juta untuk membeli Vaksin Anti Rabies (VAR) dan diperkirakan akan mendapat 18.500 vial,” paparnya.

Dikatakan, Pemerintah Kabupaten Sikka tengah meminta bantuan vaksin 25 ribu dosis yang dianggarkan melalui dana APBN. Pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas Pertanian provinsi NTT agar bantuan vaksin dari pemerintah pusat secepatnya dikirim.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, dinas Pertanian kabupaten Sikka, drh. Maria Margaretha Siko, M. Sc, mengatakan, pihaknya mendatangkan tambahan 18.500 ampul vaksin rabies usai ditetapkannya status KLB.

“Untuk pengadaan vaksin, pemerintah menggunakan dana tanggap darurat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka. Vaksin saat ini kurang, sebab alokasi vaksin yang dibelanjakan rutin setiap tahun tidak sebanding dengan populasi anjing,” ungkapnya.

Total populasi anjing di kabupaten Sikka, terang Metha sapaannya, sebanyak 55 ribu hingga 60 ribu ekor. Untuk 2019, dana APBD Sikka dialokasikan untuk pembelian vaksin sebanyak 10 ribu ampul.

“Sumber dana dari APBN sebanyak 12 ribu ampul dan APBD Provinsi NTT sebanyak 960 ampul. Bila dijumlahkan semuanya, persediaan vaksin ini mampu mengatasi sekitar 40 persen populasi anjing saja,” ungkapnya.

Lihat juga...