hut

Angin Kencang Melanda, Nelayan di Bakauheni Istirahat Melaut

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Angin kencang melanda kawasan Bakauheni, Lampung Selatan dalam sepekan terakhir. Hal itu mendorong nelayan memilih untuk beristirahat melaut.

Supadi, Kepala Dusun Minangrua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut, cuaca yang ekstrem berpotensi membuat kerusakan diwilayahnya. Angin kencang yang melanda daerah tersebut memiliki kecepatan lebih dari 15 knot. Pemilik kapal bagan congkel dan bagan apung intens mengawasi situasi yang terjadi.

Abrasi mengakibatkan kerusakan pantai di Desa Legundi Kecamatan Ketapang – Foto Henk Widi

Kapal bagan congkel, ditepikan di pantai dan diikat dengan kuat agar tidak terlepas terbawa arus. Hal yang sama dilakukan untuk bagan apung, Keramba Jaring Apung (KJA), dengan menambah jangkar dan pemberat. “Langkah antisipatif dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan membawa perahu ke daratan, agar tidak terbawa gelombang dengan cara gotong royong,” papar Supadi kepada Cendana News, Rabu (17/7/2019).

Nelayan dihimbau untuk selalu waspada, gelombang pasang akibat angin barat atau angin timur, berpotensi merusak perahu tangkap dan fasilitas budidaya keramba, maupun rumput laut. Rumah yang berada di dekat pantai, juga berpotensi terimbas gelombang pasang perairan Selat Sunda.

Saat ini, akibat angin timur dan gelombang pasang, sejumlah pantai di Kecamatan Ketapang mengalami kerusakan. Kerusakan akibat gelombang pasang membentang dari Desa Ketapang, Legundi, Sumur hingga Ruguk. Kerusakan didominasi oleh pohon tumbang akibat perakaran yang tidak kuat akibat hantaman gelombang.

Sobri, salah satu warga menyebut, kondisi Pantai Ketapang masih cukup terbantu oleh benteng alam yaitu, Pulau Seram, Pulau Suling, Pulau Mundu, Pulau Keramat dan Pulau kecil di pesisir timur. Tanpa ada benteng alam tersebut, kerusakan di perkampungan nelayan bisa dikatakan akan lebih cepat terjadi. “Sebagian permukiman nelayan terhalang oleh pulau sehingga meski ada gelombang pasang bisa lebih aman, tetapi pohon di tepi pantai rusak,” ujar Sobri.

Masyarakat nelayan disebutnya, sudah melakukan upaya menanam mangrove. Kontur tanah berpasir, membuat kawasan tersebut lebih cocok ditanami kelapa, cemara dan ketapang. Masyarakat nelayan berharap, upaya penanaman pohon bisa dilakukan secara serempak untuk membentuk sebagai benteng alami.

Salah satu kendala melakukan konservasi adalah kepemilikan lahan. Sebagian pantai di wilayah Ketapang sudah dikuasai pengusaha. Banyak yang dipergunakan sebagai lokasi budi daya tambak udang dan warga hanya memiliki hak pinjam pakai.

Lihat juga...