hut

Antisipasi Kekerdilan, Dinkes Riau Sasar Balita di Kampar

PEKANBARU  – Dinas Kesehatan Provinsi Riau tahun 2019 menyasar anak-anak balita di Kabupaten Kampar untuk mengantisipasi stunting atau kekerdilan pada generasi muda di daerah itu.

“Kampar menjadi lokus stunting karena prevalensi balita yang mengalami kekerdilan berdasarkan Riskesdas 2013 tinggi yaitu sebesar 39,9 persen dan berdasarkan indikator yang ditetapkan oleh Sekretariat Wakil Presiden,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinkes Riau, Dedi Parlaungan di Pekanbaru, Minggu.

Menurut Dedi, pemberantasan stunting di Indonesia dan khususnya Riau berkaitan dengan pentingnya pemberian gizi yang cukup pada masa usia emas anak (golden age/seribu hari kelahiran), supaya tidak tumbuh kerdil dan punya kecerdasan yang luar biasa.

Ia mengatakan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Anak yang menderita stunting ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dibanding anak lain yang seusia pada umumnya.

Stunting terjadi sejak dalam kandungan dan akan nampak pada saat anak usia 2 tahun atau lebih. Kondisi stunting membawa dampak pada perkembangan anak, kemampuan kognitif rendah, mudah terinfeksi penyakit dan berisiko terkena penyakit degeneratif,” katanya.

Ia menekankan, dampak stunting juga bisa menyebabkan pada usia dewasa kurang produktif, kerugian ekonomi dan menjadi penghambat pembangunan manusia Indonesia.

Oleh karena itu, katanya, sangat penting upaya pencegahan dan penanggulangan dilakukan oleh Dinkes Provinsi Riau yakni melalui anggaran DAK khusus Provinsi Riau yaitu berupa pemberian PMT pada ibu hamil, KEK, dan DAK khusus di kabupaten lokus stunting pada tahun 2019 dan sudah dialokasikan untuk kegiatan khusus pencegahan stunting tersebut.

“Kegiatan khusus tersebut dimulai dengan pendataan ulang balita, mengagendakan rapat-rapat koordinasi dan turun ke lokasi kasus. Untuk tahun 2019 menjadi lokus stunting adalah Kampar untuk 6 Puskesmas di 10 desa sedangkan tahun 2018 menjadi lokus stunting adalah Kabupaten Rohul di 6 puskesmas dan 10 desa,” katanya.

Sementara itu prevalensi stunting di Provinsi Riau dari tahun 2013 sampai tahun 2018 (Sumber Riskesdas, red) sudah menunjukkan penurunan prevalensi stunting yaitu dari 38,9 persen menjadi 27,6 persen. (Ant)

Lihat juga...