hut

Antisipasi Kekeringan, HSU Siapkan Puluhan Pompa Air

Ilustrasi - Kondisi sawah yang kekeringan - Foto Dokumentasi CDN

AMUNTAI – Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, menyiapkan puluhan pompa air, untuk membantu petani mengantisipasi kekeringan akibat kemarau panjang.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Yuli Hertawan, mengatakan, meski potensi gagal panen akibat musim kemarau di HSU sangat rendah. Pihaknya tetap mengantisipasi dengan menyediakan pompa air. “Saat ini sudah kami siapkan 174 unit pompa air 6 inch, 66 buah pompa air 3 inch, 17 embung dan 15 long storage,” ujar Yuli, Selasa (30/7/2019).

Pompa air akan disalurkan kepada kelompok tani yang lahannya rawan mengalami kekeringan. Selain itu, Dinas Pertanian juga bekerja sama dengan BPBD, dan Dinas Ketahanan Pangan dalam upaya mengantisipasi dampak kemarau. Sebagaimana diketahui, lebih dari 90 persen, lahan di Kabupaten HSU merupakan rawa atau lebak.  Sehingga, pada saat musim kemarau biasanya berpotensi untuk menanam padi dan meningkatkan produksi.

Bahkan pada saat kemarau, menjadi kesempatan bagi petani untuk meningkatkan luas lahan tanam. “Namun karena musim kemarau tahun ini diprediksi cukup panjang, pemerintah tetap mengantisipasi dengan mengadakan pompa air serta sarana prasarana lainnya,” katanya.

Berdasarkan produksi pada 2018, stok gabah di tingkat petani masih bisa mencukupi kebutuhan pangan selama 1,5 tahun atau sampai Juni 2020. Kondisi tersebut dengan asumsi, tidak ada gabah yang dijual ke luar daerah.

Sasaran luas tanam di 2019 mencapai 26.695 hektare, luas panen ditargetkan seluas 25.627 hektare, dengan produktivitas sebesar 51,70 Kuintal per hektare. Diharapkan mampu menghasilkan produksi beras sebanyak 132.493 ton.

Mengantisipasi ketersediaan pangan selama kemarau panjang, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten HSU memiliki program pengembangan cadangan pangan daerah. “Tapi selama ini belum ada kasus kerawanan pangan kronis, namun program tetap disalurkan ke daerah rawan pangan pascabencana alam, paling sering terjadi akibat bencana kebakaran pemukiman,” jelas Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Entin Lestanti.

Selain pemerintah daerah memiliki cadangan pangan berupa gabah kering sebanyak 2,5 ton, petani setiap panen juga menyisihkan hasil panen untuk cadangan. “Kita punya program lumbung pangan yang dibangun dari dana DAK, sebanyak 14 lumbung untuk menyimpan hasil panen petani,” terangnya.

Di 2018 produksi padi di daerah tersebut mencapai 142.682 ton Gabah Kering Giling (GKG). Bila dikonversikan menjadi beras, akan mencapi 133.065 ton. Sedang kebutuhan masyarakat HSU untuk satu tahun sebesar 81.256 ton beras.

Sedangkan di 2019, diproyeksikan produksi padi sebesar 132.493 ton GKG. Bila dikonversi menjadi beras menjadi 123.563 ton. Kebutuhan masyarakat diperkirakan sebesar 75.454 ton beras, turun dari 2018 karena jumlah penduduk juga berkurang. “Jadi masih surplus beras,” pungkasnya. (ant)

Lihat juga...