hut

Atraksi Pantai Wartawan De Mansion Belum Pulih Usai Tsunami

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Atraksi atau sajian menarik dari objek wisata bahari di pantai Wartawan De Mansion (WDM) yang rusak akibat tsunami 22 Desember 2019 belum pulih.

Kurniawan, pengelola pantai yang juga dikenal sebagai pantai WDM tersebut menyebut, kerusakan atraksi atau sajian spot wisata bahari yang rusak di antaranya bebatuan yang hilang, pasir yang rusak.

Atraksi air panas belerang yang menyembul di sisi barat pantai WDM bahkan hilang tertimbun batu. Enam bulan usai tsunami ia memastikan atraksi belum pulih bahkan butuh waktu lama untuk kembali seperti semula.

Selain atraksi, ia pastikan amenitas atau sejumlah fasilitas rusak. Amenitas yang rusak tersebut diantaranya 16 cottage, perahu payang, ruang pertemuan, kolam renang, kamar mandi, cafe, studio musik.

Kurniawan, pengelola pantai Wartawan De Mansion memperlihatkan lokasi tempat munculnya air panas yang hilang tertimbun bebatuan akibat tsunami mengurangi atraksi di objek wisata pantai Wartawan de Mansion, Minggu (28/7/2019) – Foto: Henk Widi

Setelah proses inventarisasi, Kurniawan menyebut dari sejumlah amenitas yang rusak total kerugian pantai WDM mencapai Rp4,27 miliar.

Berbagai jenis amenitas yang rusak membuat kegiatan pariwisata belum pulih. Ia bahkan menyebut dari kisaran rata-rata minimal 100 pengunjung per pekan, saat ini ia mencatat tidak ada wisatawan yang datang untuk menikmati pantai tersebut.

“Sekarang hampir tidak ada wisatawan berkunjung karena semua atraksi rusak, amenitas belum diperbaiki hanya warga lokal yang ingin memancing atau rekreasi secara gratis. Aktivitas wisata di pantai WDM masih lumpuh,” ungkap Kurniawan saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (28/7/2019).

Kurniawan mengungkapkan semua kerusakan atraksi, amenitas sudah dilaporkan ke instansi terkait. Laporan disebutnya sudah disampaikan kepada Kementerian Pariwisata meski enam bulan usai tsunami tidak ada perhatian.

Sebagai pengelola langkah yang dilakukan hanya membersihkan puing-puing kerusakan, membuat pagar darurat pada area wisata di pantai WDM tersebut.

Sembari berharap ada perhatian dari pemerintah, Kurniawan menyebut atraksi pantai WDM sangat menarik untuk dikunjungi. Sebab pantai di sisi barat Lampung Selatan itu cukup unik karena dianugerahi bentang alam indah.

Berada di jalan lingkar pesisir, ditempuh dari pelabuhan Bakauheni hanya sekitar 45 menit. Sisi pantai sebelah timur dari bukit botak, bebatuan hitam seperti lava dingin Gunung Krakatau jadi hiasan. Dari sisi timur wisatawan bisa menikmati matahari terbit (sunrise).

“Bebatuan hitam itu bukti letusan Krakatau ratusan tahun silam yang menjadi sumber tsunami di pesisir,” papar Kurniawan.

Sementara di sisi barat bukit botak, sajian dari pantai WDM dihiasi pasir putih. Keunikan lain adanya air panas belerang diduga keluar dari Gunung Rajabasa kerap dijadikan lokasi untuk terapi kesehatan.

Meski sudah tidak muncul namun wisatawan bisa menikmati matahari terbenam (sunset) terutama bagi pecinta fotografi. Sejumlah pehobi memancing bahkan sudah mulai bisa melakukan aktivitas memancing di pantai WDM.

Tiga goa di atas bukit diantaranya  Goa Akas, Sagring dan Marguce sebagai daya tarik masih bisa dikunjungi.

Selain itu lokasi bersejarah adanya makam keramat di atas bukit tepat di atas pantai WDM kerap dijadikan lokasi wisata religi. Lokasi yang belum ditata usai tsunami membuat wisatawan sebagian enggan berwisata di pantai WDM.

Kurniawan menyebut belum bisa melakukan perbaikan sejumlah fasilitas. Selain belum adanya bantuan, dana yang dimiliki tidak cukup untuk rekonstruksi sejumlah fasilitas.

Selain itu usai tsunami pengelola tidak memungut karcis masuk bagi wisatawan yang berkunjung. Kesadaran dari pengelola sajian atraksi, fasilitas belum memadai membuat ia menggratiskan pengunjung sehingga pemasukan tidak ada.

“Sekarang siapa saja silakan datang ke pantai WDM meski fasilitas belum sempurna, namun bisa dinikmati bagi pehobi fotografi dan memancing,” papar Kurniawan.

Salah satu pehobi memancing atau dikenal angler bernama Usman mengaku kerap memancing di pantai WDM.

Usman dan sang anak memancing di salah satu spot pantai Wartawan De Mansion yang kerap dipakai untuk teknik memancing tepi tebing, Minggu (28/7/2019) – Foto: Henk Widi

Ia sudah kerap memancing dengan teknik memancing dari tebing di pantai WDM. Sebagai kegiatan rekreasi kegiatan memancing tidak terkendala meski kerusakan terjadi di pantai tersebut. Hanya saja lokasi pijakan berupa talud sudah hancur diterjang tsunami.

“Saya izin ke pengelola dan bagi pemancing dipersilakan, sebab sebagian merupakan warga di sekitar pesisir,” ungkap warga Bakauheni itu.

Pada musim ikan simba, kakap, akhir pekan diakuinya menjadi waktu tepat memancing di pantai WDM. Usman juga berharap lokasi wisata pantai WDM kembali bisa pulih, sebab saat memancing ia kerap mendapat penghasilan tambahan.

Hasil tangkapan ikan kakap, simba dan ikan lain kerap dibeli wisatawan serta pemilik usaha kuliner di objek wisata tersebut.

Sekali memancing ia bisa mendapatkan 5 hingga 10 kilogram ikan dijual Rp30.000 per kilogram. Belum pulihnya pantai WDM membuat hasil pancingan ikan kerap dibawa pulang.

Sejumlah pehobi memancing disebutnya kerap berasal dari sejumlah kecamatan di Lampung Selatan. Selain bisa mendapatkan ikan, kegiatan memancing di pantai WDM sekaligus rekreasi akhir pekan.

Lihat juga...