hut

Atur Waktu Tanam, Kunci Sukses Budi Daya Sayur Saat Kemarau

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Budi daya sayur di musim gadu, di Lampung Selatan membutuhkan strategi tersendiri. Hal itu dibutuhkan, agar bisa mendapatkan hasil dari sayur yang ditanam.

Supri, petani di Desa Kelaten, Penengahan, Lampung Selatan menyebut, saat kemarau Dia berhenti menanam padi. Pasokan air yang minim menjadi alasan utama. Namun, pasokan air masih bisa diperoleh dengan membendung aliran siring alam yang ada di dekat lahannya. Beberapa tahun mencoba peruntungan menanam sayur saat kemarau, Supri menyebut, jadwal tanam menjadi kunci sukses upaya menanam sayur yang dilakukannya.

Patokan usia tanaman sayur, waktu aktivitas pasar tradisional, serta pengepul yang konsisten, menjadikan usaha budi daya sayur maytur yang dilakukan lancar. Usia tanaman sayur cukup beragam, mulai dari sebulan hingga maksimal dua bulan sudah bisa dipanen.

Supri memanen sawi yang memiliki masa tanam 30 hari di sawah miliknya, Senin (22/7/2019) – Foto Henk Widi

Penanaman dilakukan dengan membuat guludan sebagai media penyemai dan media tanam sayur di sawah. Beberapa jenis sayur bahkan bisa langsung ditanam pada guludan, tanpa harus disemai. Sayur yang harus disemai diantaranya tomat, terong, sawi, dan selada.

“Jenis sayuran yang benihnya bisa langsung disebar dan ditanam meliputi kangkung, bayam, bawang daun dan kemangi. Menanam dengan media guludan sudah dicampur dengan pupuk kompos dari kotoran ternak sapi dan kambing,” ungkap Supri kepada Cendana News, Senin (22/7/2019).

Sawi, tomat, terong, selada disemai di media khusus, dari usia nol hingga lima hari. Setelah tumbuh benih, dengan dua tangkai daun tanaman baru bisa dipindahkan. Cara tersebut sangat efektif untuk pengaturan jarak tanam, sekaligus menghitung kebutuhan bibit. Termasuk menjaga kualitas sayur yang akan diproduksi.

Menanam sayur disebut Supri tidak hanya memperhitungkan insting bisnis. Perhitungan cuaca juga sangat menentukan. Dia beruntung, hari tanpa hujan terjadi merata di sepanjang Juni hingga Juli 2019.

Tanaman sayur meski rakus air, masih bisa dipenuhi dengan penyiraman secara kocor. Aplikasi pupuk kompos pada media tanam menjadi cara untuk menjaga pertumbuhan. “Saya tidak memakai bahan kimia, jika ada tanaman yang diserang hama cara yang saya lakukan memusnahkan tanaman agar tidak menular, karena sayuran bisa cepat disulam atau diganti tanaman baru,” ungkap Supri.

Dua bulan terakhir semua jenis sayur mengalami kenaikan harga. Hal yang menguntungkan baginya. Sawi yang semula perikat dijual Rp1.000 kini menjadi Rp2.000. Hal yang sama juga terjadi pada kangkung, bayam dan selada. Tomat, yang semula dijual Rp3.000 kini naik menjadi Rp6.000. Terong yang semula dijual Rp6.000 kini menjadi Rp10.000 perkilogram.

Untuk sayur yang bisa dipanen 30 hari, diberi waktu jeda sepekan untuk menyemai benih. Dalam sepekan, Dia harus memasok untuk kebutuhan pasar tradisional di Pasuruan, Bakauheni dan Ketapang. Setiap sore ia memanen sayur untuk dijual di pagi hari berikutnya.

Dalam satu kali pemanenan, Supri menyetorkan ke pengepul rata-rata 100 ikat sayur untuk setiap jenis tanaman. Setiap pengepul memiliki pelanggan sendiri-sendiri. Permintaan yang stabil setiap pekan, membuat Dia bisa mendapatkan hasil yang cukup lumayan dari usahanya tersebut.

Lihat juga...