hut

Bawa Burung Liar Tanpa Dokumen, Bus Qitarabu Diamankan Polisi

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Membawa satwa burung tanpa dokumen resmi, Bus Qitarabu Trans, jurusan Jambi-Bandung diamankan petugas di Pelabuhan Bakauheni.

Bus bernomor polisi K 1688 FD, ditahan karena membawa ratusan keranjang berisi burung liar tanpa dokumen. Dampaknya. 42 penumpang bus tujuan Bandung terlantar di Bakauheni.

Siti Rohani, salah satu penumpang asal Bayunglincir, Jambi, mengungkapkan Dia sudah tertahan di Bakauheni sejak Minggu (7/7/2019) pagi. Siti menyebut, bus ditahan dan sopir harus menjalani pemeriksaan di Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni.

Sementara, sejak berangkat dari Jambi Sabtu (6/7/2019) Siti sudah merasakan sesak napas akibat aroma burung liar. Meski sudah melakukan protes kepada awak bus, keluhannya tidak digubris.

Karena terlantar, sebagian penumpang meminta gantirugi, agar bisa melanjutkan perjalanan ke Bandung. “Kami sudah sampaikan ke pengurus bus namun belum ada kejelasan kapan kami akan berangkat apalagi pengemudi masih diperiksa karena membawa barang tanpa dokumen,” terang Siti Rohani kepada Cendana News, Minggu (7/7/2019).

Siti membayar Rp350ribu untuk diantar dari Jambi tujuan Jakarta. Dan saat ini Siti ingin agar uangnya dikembalikan untuk melanjutkan perjalanan. Penumpang lainnya, ada yang meminta agar dioper ke kendaraan lain, meski cara tersebut tidak dilakukan oleh pengurus bus. “Bus ini mengangkut anak-anak, wanita hamil dan orangtua dipastikan mengalami gangguan kesehatan,”papar Siti Rohani.

Bus Qitarabu bernomor polisi K 1688 FD asal Jambi tujuan Bandung pengangkut burung liar – Foto Henk Widi

Sementara itu, FX.Marthyn, Petugas Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Lampung Wilayah Kerja Bakauheni menyebut, bus sementara diamankan. Berdasarkan pemeriksaan di pintu masuk pelabuhan oleh petugas KSKP Bakauheni terbukti membawa satwa tanpa dokumen. Sebagai media pembawa, sesuai pemeriksaan dokumen yang dipersyaratkan tidak dipenuhi. Ia memastikan kendaraan diamankan karena membawa satwa liar tanpa melapor, tanpa dokumen sebelum melintas melalui pelabuhan.

Pengemudi dipastikan melanggar pasal 6, UU No.16/1992, tentang Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan. Sebagai prosedur pertama pengemudi menjalani pemeriksaan terkait pengiriman satwa burung liar tersebut. “Kami sudah mendengar keluhan dari penumpang dan kami sampaikan ke pengurus bus, tapi untuk pengemudi masih menjalani pemeriksaan,” ungkap FX.Marthyn.

Setelah dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), 149 keranjang, kardus berisi sekira 3.300 ekor burung, akan diserahkan ke karantina pertanian. Sesuai dengan prosedur, media pembawa yang akan dilalulintaskan harus disertai dengan dokumen.

Suhairul, kepala pos pengawasan lalu lintas satwa liar BKSDA Seksi  wilayah 3 Lampung mengaku, masih menunggu proses. Setelah dilakukan BAP dari KSKP Bakauheni dan Karantina Pertanian Lampung, pihaknya akan melakukan pelepasliaran.

Sesuai prosedur BKSDA, satwa liar yang dilalulintaskan harus dilengkapi Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATDN). “Saat diperiksa terhadap pengemudi dia tidak bisa memperlihatkan dokumen SATDN sehingga burung harus diamankan,” papar Suhairul.

Pengiriman satwa liar tanpa dokumen, melanggar UU No.5/1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Burung yang dibawa tersebut diantaranya ciblek, prenjak, kepodang, perkutut, panca warna, jalak kebo, kolibri, pelatuk.

Lihat juga...