hut

BMKG Bekali PPL di Sulut Wawasan Agroklimat

MANADO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), membekali penyuluh pertanian lapangan (PPL) dengan wawasan agroklimat, untuk meningkatkan produksi pertanian melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

“SLI tidak dapat dilepaskan dari informasi iklim dan program nasional tentang ketahanan pangan. Suatu bangsa akan hidup sejahtera, bila kebutuhan pangan nasional tercukupi dengan baik,” kata Nurhayati, mewakili Deputi Klimatologi BMKG pada acara SLI di Manado, Kamis (25/7/2019).

Menurut dia, kondisi iklim ekstrem yang sering terjadi pada dekade terakhir ini telah menimbulkan banyak kerugian terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian.

Ia mengatakan, puso akibat kemarau panjang, penurunan produksi akibat terjadinya hujan yang terus menerus, serta berkembangnya hama penyakit disebabkan tidak berjalannya pola tanam yang baik, merupakan permasalahan yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Kondisi tersebut, kata dia, isu sentral yang tidak hanya menjadi permasalahan petani di Indonesia, namun juga telah menjadi isu dunia dalam menghadapi ancaman pemanasan global dan perubahan iklim.

“Penyimpangan/anomali iklim yang sangat mungkin berulang kembali pada tahun dan musim-musim mendatang, menuntut kesiapsiagaan kita, baik BMKG dengan informasi peringatan dini iklim ekstrem serta para petugas lapang dan penyuluh pertanian yang langsung bersentuhan dengan masyarakat petani,” ujarnya.

Sejak 2011, lanjut dia, pemerintah memandang perlu menyikapi tantangan iklim ekstrem terkait dengan ketahanan pangan nasional.

Karena itu, diterbitkanlah Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional Dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrem, yang melibatkan 36 kementerian/lembaga di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

BMKG bertugas memberikan informasi peringatan dini iklim ekstrem, serta mendiseminasikan ke instansi terkait, khususnya Kementerian Pertanian.

Ia menjelaskan, mandat tersebut diperkuat dengan pencanangan Nawacita yang menekankan pentingnya kemandirian negara dalam swasembada pangan.

“Kita berharap, PPL yang mengikuti SLI ini ikut meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada petani, ada transfer pengetahuan, sehingga harapan bersama (ketahanan pangan nasional, red.) bisa tetap terjaga,” kata Nurhayati.

Pembukaan SLI dan sosialisasi agroklimat itu dihadiri, antara lain Kepala Stasiun Klimatologi Minahasa Utara, Johan Jaconias Haurissa, Kepala Dinas Pertanian Minahasa Utara, Wangke Karundeng, Kepala Laboratorium, Agens Hayati Kalasey Jusak Wongkar, petugas lapang, dan PPL. (Ant)

Lihat juga...