hut

BMKG Ingatkan Dampak Kekeringan Iklim

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksi akan terjadi kekeringan iklim selama bulan Juli. Dan kondisi ini, kemungkinan besar akan berlanjut hingga penghujung musim kemarau. BMKG mengharapkan semua pihak terkait dapat mengantisipasi dampaknya. 

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, M.Sc., mengungkapkan kekeringan iklim salah satunya disebabkan oleh mendinginnya suhu permukaan laut wilayah Selatan Indonesia.

“Berdasarkan perhitungan curah hujan, maka diperkirakan akan terjadi kekeringan, yang tingkat kekeringannya lebih kering dibandingkan beberapa tahun belakangan,” kata Siswanto, saat ditemui, Selasa (16/7/2019).

Ia menyampaikan, saat ini sudah 39 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan rendahnya curah hujan selama tiga dasarian terakhir.

Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto, M.Sc., -Foto: Ranny Supusepa

“Yang sudah masuk itu, NTT, NTB, Bali, seluruh Pulau Jawa, Sumatra bagian Selatan, sebagian Sumatra bagian Tengah dan Sumatra bagian Utara. Sebagian Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Selatan dan bagian Selatan Papua,” ucap Siswanto.

Kondisi ini, menurut Siswanto, akan menyebabkan kekeringan iklim di beberapa wilayah di Indonesia.

“Berdasarkan data per 30 Juni, kekeringan iklim ini sudah terjadi di banyak lokasi. NTT, NTB, Madura, Yogyakarta, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Aceh,” ujar Siswanto.

Ia memperkirakan, kondisi sangat kering masih akan berlanjut hingga Agustus periode awal. Dan, curah hujan masih akan tetap rendah di sepanjang Oktober.

“Baru pada November, kita perkirakan ada penambahan curah hujan,” ucapnya.

Siswanto menyebutkan, kekeringan iklim akan berdampak pertama kali pada kekeringan hidrologis.

“Kekeringan hidrologis ini adalah berkurangnya persediaan air permukaan. Misalnya, debit sungai yang menurun,” paparnya.

Dampak selanjutnya adalah kekeringan agriculture, yaitu saat kekeringan yang terjadi mempengaruhi ketersediaan air bagi tanaman.

“Saat kekeringan ini sudah mempengaruhi produksi dan sektor industri, itu artinya sudah sampai pada kekeringan sosial ekonomi,” kata Siswanto.

Untuk mengantisipasi kekeringan ini, Siswanto meminta semua sektor untuk mengambil langkah antisipatif.

“Semua sektor ini adalah semua pihak yang terkait. Apakah itu KLHK atau Dinas Pengairan atau lembaga lainnya. Dinas Pengairan, misalnya, harus memikirkan jika cadangan air di waduk tidak cukup, apa yang harus dilakukan. Apakah mau dibikin sumur bor atau yang lainnya,” pungkas Siswanto.

Lihat juga...