hut

BPBD Madiun: 28 Desa Rawan Kekeringan-Krisis Air Bersih

Kekeringan, ilustrasi -Dok: CDN

MADIUN — Sebanyak 28 desa di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, rawan mengalami kekeringan dan krisis air bersih selama musim kemarau tahun 2019 berlangsung.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Supriyanto mengatakan penetapan puluhan desa yang rawan krisis air bersih tersebut berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh BPBD setempat dan hingga kini masih belum selesai.

“BPBD Madiun masih memetakan dan mengerucutkan desa yang berpotensi krisis air bersih saat kemarau. Datanya belum final,” ujar Supriyanto kepada wartawan di Madiun, Senin (15/7/2019).

Menurut dia, ke-28 desa rawan krisis air tersebut terdapat di enam kecamatan. Yakni di Kecamatan Dagangan, Dolopo, Wungu, Geger, Gemarang, dan Kare.

Adapun data 28 desa tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun 2018. Desa-desa itu ditetapkan siaga dan rawan darurat bencana kekeringan. Status merah itu diberikan dengan pertimbangan puluhan desa dari enam kecamatan itu sulit memperoleh air bersih.

“Kecamatan Dolopo dan Kare jadi wilayah terawan dengan masing-masing tujuh desa. Paling sedikit Kecamatan Geger dengan dua desa,” kata dia.

Supriyanto menjelaskan, daerah dikategorikan rawan kekeringan jika kawasannya minim sumber air dan suplai air bersih. Namun, sejauh ini belum ada kepala desa (kades) yang mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih.

“Berkaca dari tahun lalu, pengajuan bantuan air bersih dilakukan pada bulan Agustus dan September,” ucap dia.

Guna menangani ancaman kekeringan di musim kemarau tahun 2019, BPBD Kabupaten Madiun akan melibatkan instansi terkait. Di antaranya mengajukan bantuan kiriman air bersih dengan bekerja sama PDAM Kabupaten Madiun untuk menyuplai air bersih di lokasi rawan kering. (Ant)

Lihat juga...