hut

Buah Kesemek ‘Naik Kelas’ Berkat Teknologi ‘Dry Ice’

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MALANG — Pada umumnya buah kesemek banyak dijual di pasar tradisional maupun di pinggiran jalan. Namun dengan sedikit sentuhan teknologi, buah dengan nama ilmiah Diospyros kaki tersebut memiliki peluang ‘naik kelas’ untuk berada di jajaran buah yang dijual di supermarket.

Dr. Chatief Kunjaya M.Sc. Foto: Agus Nurchaliq

Teknologi Dry Ice atau es kering merupakan metode yang kini tengah dikembangkan Universitas Ma Chung untuk menggantikan air kapur dalam proses pematangan buah agar tampilannya lebih menarik dan bersih.

Rektor Universitas Ma Chung periode 2015-2019, Dr. Chatief Kunjaya M.Sc mengatakan, Kabupaten Malang khususnya di desa Tamansatriyan, kecamatan Tirtoyudo, sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa dikembangkan dan dipasarkan di pasar modern. Setidaknya kurang lebih 425 hektare lahan kesemek dengan potensi ribuan ton sekali panen.

“Kenapa kesemek ini sangat sulit sekali masuk ke pasar modern atau supermarket, karena memakai kapur sehingga kesannya kotor. Sedangkan orang yang datang ke supermarket itu melihat sebuah produk pasti dari tampilannya dulu. Begitu ada kotor sedikit, seleranya langsung turun sehingga tidak jadi membeli,” ujarnya.

Itulah sebabnya jarang sekali terlihat ada kesemek di supermarket. Adanya hanya di pasar-pasar tradisional dengan harganya yang murah sekitar empat hingga lima ribu rupiah.

“Jadi dua atau tiga tahun yang lalu Plt Bupati Malang, Sanusi, meminta Ma Chung untuk membantu petani di desa Tamansatriyan dengan teknologi yang kami miliki. Kebetulan kami punya teknologi mengolah Kesemek dari Jepang yakni dengan menggunakan Dry Ice,” akunya.

Dijelaskan Kunjaya, fungsi Dry ice sendiri sebenarnya hampir sama dengan penggunaan kapur dalam proses pemeraman. Bedanya, penggunaan kapur akan meninggalkan noda berwarna putih pada kulit buah. Sedangkan jika menggunakan Dry ice, warna kulit akan terlihat lebih bersih karena tidak ada serbuk kapur yang tertinggal.

Penerapan teknologi Dry ice sebenarnya cukup mudah. Petani hanya membutuhkan plastik besar untuk menyimpan kesemek dan Dry ice di dalamnya.

“Jadi buah di masukkan ke dalam plastik besar bersama dengan dry ice yang sebelumnya telah dibungkus kertas agar tidak menempel langsung ke buah. Kemudian plastik diikat agar gasnya tidak keluar, karena gas inilah yang akan diserap,. Untuk 10 kg Kesemek diperlukan 250 gram dry ice,” tandasnya.

Selanjutnya, setelah diperam selama 3-4 hari menggunakan dry ice, buah kesemek akan matang dan siap dipasarkan di supermaket.

“Setelah matang, kemudian kita coba hubungi pihak supermarket untuk menawarkan kesemek. Ternyata mereka mau menerimanya. Disini kami melihat bahwa sebenarnya potensinya cukup besar untuk masuk ke supermarket,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Kunjaya, semua proses atau tahapan pemeraman menggunakan dry ice sudah diajarkan kepada para petani di desa Tamansatriyan.

“Kita panggil petani untuk datang. Kami tunjukkan kepada mereka caranya bagaimana memeram menggunaka dry ice. Selain di kampus, kami juga sudah mendemokan teknologi dry ice ke para petani di desa Tamansatriyan, agar mereka bisa mempraktekkannya sendiri,” akunya.

Hanya saja menurut Kunjaya, problem utama petani bukan hanya di sektor produksi saja tetapi juga di sektor marketing atau pemasaran. Sehingga mereka harus dibantu dari dua sektor tersebut.

Banyak masalah yang terjadi sehingga banyak kesemek yang di panen justru terbuang menjadi sampah. Contohnya banyak ukuran buah yang kecil, sehingga tidak bisa masuk supermarket. Kemudian jika sudah masuk di supermarket, kalau ada sisa mau diapakan. Padahal yang tersisa di supermarket tersebut sebenarnya tidak busuk, hanya empuk saja tapi masih bisa dimakan. Oleh karenanya perlu dilakukan diversifikasi produk, misalnya di buat keripik kesemek, sale kesemek atau produk lainnya.

Sebenarnya masih banyak riset yang dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi. Mulai dari metode panen yang efisien dan paling cepat, memperpanjang musim panen, menyeragamkan ukuran buah, hingga riset tentang pemasaran buah maupun aneka produk olahan.

“Riset-riset tersebut nantinya akan bermuara pada peningkat kesejahteraan dan perbaikan ekonomi dari para petani Kesemek,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!