hut

Budi Daya Kalkun Harus Telaten

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Masih minimnya jumlah peternak, serta cukup tinggi dan stabilnya nilai jual ayam kalkun, menjadi salah satu keuntungan yang bisa didapatkan para pembudidaya ayam kalkun saat ini.  Meski begitu, usaha budi daya ayam kalkun kerap dikatakan sebagai usaha yang susah-susah gampang. Hal itu karena sifat ayam kalkun yang cenderung sensitif, sehingga perlu perhatian dan perlakuan khusus. 

Salah seorang pembudidaya ayam kalkun asal Jodog, Pandak, Bantul, Johan Efendi (40), menyebut ayam kalkun tergolong jenis unggas yang sangat peka terhadap perubahan kondisi suhu maupun lingkungan. Hal itu sering membuat kalkun kerap menjadi stres, dan jika tidak ditangani dengan tepat, akan bisa berdampak pada kematian.

“Memelihara kalkun memang susah-susah gampang. Karena kalkun sangat mudah stres. Jika sudah stres, biasanya selalu menyendiri dan tidak mau makan. Dan, jika dibiarkan tentu akan bisa mati,” katanya.

Hal itulah yang dikatakan Johan membuat banyak peternak ayam kalkun memilih berhenti melakukan usaha budi daya kalkun. Sehingga, mengakibatkan jumlah peternak ayam kalkun saat ini makin berkurang, bahkan minim.

“Perubahan kondisi, misalnya ada ternak yang baru didatangkan ke kandang, itu bisa membuat stres kalkun. Begitu juga, sebaliknya. Sehingga banyak peternak yang enggan membudidayakan kalkun, karena sulit menambah atau mengurangi jumlah ternak,” katanya.

Mengatasi ayam kalkun yang stres, Johan mengaku memiliki tips tersendiri. Jika mendapati salah satu ayam kalkunnya yang menyendiri dan tidak mau makan, ia mengaku rela menyuapinya selama beberapa hari, hingga ayam tersebut kembali normal dan mau makan sendiri.

“Kalau ayam tidak mau makan, ya harus kita loloh atau kita suapi. Kalau dibiarkan, nanti lama-lama bisa kena penyakit dan akhirnya mati. Sehingga memang peternak harus telaten,” katanya.

Memelihara ratusan ayam kalkun berbagai jenis dan usia di pekarangan rumahnya, Johan menyebut ayam kalkun betina sudah mulai bisa bertelur saat usia 7 bulan. Sedangkan ayam kalkun jantan siap menjadi indukan saat mencapai usia 9 bulan sampai 1 tahun.

“Satu ekor jantan idealnya dipasangkan dengan 6-7 ekor betina. Satu ekor betina bisa menghasilkan 14-18 telur. Untuk penetasan membutuhkan waktu sekitar 28-29 hari dengan memakai mesin tetas,” katanya.

Setelah menetas, anakan ayam Kalkun sudah bisa dijual dalam DOC. Namun, biasanya konsumen lebih suka membeli anakan kalkun yang telah berusia 2-3 bulan. Karena sudah relatif aman dipelihara, dan harganya masih terjangkau.

“Kalau untuk konsumsi biasanya jantan usia 1 tahun. Jika dirawat dengan baik, satu ekor kalkun jantan bisa mencapai berat 8-9 kilogram. Sementara harga jual konsumsi 1 kilogram hidup mencapai Rp50 ribu. Sedangkan harga indukan jenis tertentu bisa lebih mahal, sampai jutaan, bahkan hingga puluhan juta,” katanya.

Untuk pakan, Johan mengaku biasa memberikan katul atau dedak, yang sesekali dicampur dengan voor atau BR. Sementara pakan tambahan diberikan berupa daun-daunan, seperti enceng gondok, daun pepaya, daun singkong, kangkung atau odot yang dicacah-cacah.

“Daun-daunan ini diberikan untuk menghemat kebutuhan katul. Jika biasanya 100 ekor kalkun bisa menghabiskan 50 kilogram katul dalam waktu 3 hari, dengan tambahan hijauan, bisa awet sampai 5 hari,” katanya.

Selain rutin memberikan pakan setiap pagi dan sore hari, Johan juga rutin melakukan perawatan terhadap ternaknya. Yakni, membersihkan kandang setiap hari. Menyemprot disinvektan setiap 2-3 hari sekali, dan memberikan vaksin setiap 3 bulan sekali.

“Untuk betina yang mau bertelur, biasanya saya kasih pakan tambahan berupa sentrat. Agar produksi telurnya bagus. Sedangkan untuk anakan biasa saya kasih tambahan vitamin, agar tidak mudah mati. Karena anakan umur di bawah 3 bulan masih riskan terkena penyakit,” pungkasnya.

Lihat juga...