hut

Bundelan Hills

CERPEN WIYONO AGUNG SUTANTO

TRUK yang terjungkal ke jurang itu jadi berita utama media lokal. Secara cepat tersebar dengan berita yang diunggah.

Termasuk kabar yang bersambungan di antara  roda yang keluar masuk lewat pintu tanjakan ini. Ini menjadikan kata peringatan, telah diserukan adanya korban.

Jadi ingatkan kepada kawan-kawan, kenyataan dirinya yang tertimpa bencana. Ia telah menyuarakan  teriakan lantang agar selalu waspada. Seharusnya telinga-telinga di atas roda itu mampu mendengarkan. Namun, masih saja terulang-ulang entah sampai kapan.

Kabar kecelakaan tersebar sampai di telinga Lik Jon, sopir yang sering ngetem di ujung desa. Bahkan sampai jauh ke ujung timur Papua. Karena kabar itu menembus ke sana. Kabar itu harus cepat disampaikan agar tahu bahwa teman akrabnya telah pergi.

Banyak kawan akrab merasa sangat kehilangan. Karena baru saja komunikasi dan baru 5 menit main HP. Saat regu penolong datang masih hangat HP itu. Alat perekat jarak berupa lempengan tipis untuk saling kirimkan kata. Ia sesama kawan tetap terhubung walau terpisah pulau. Mereka dalam waktu yang telah disatukan gawai.

***
BAGI warga Bundelan, kejadian itu sudah kesekian kali. Bahkan jadi kabar biasa saja. Malah ada kata, “Betapa tangguhnya jalan tanjakan ini.”

Semua warga sudah merasakan kekuatan Bundelan sehingga menjadi biasa. Kebanyakan mereka sudah bertahun-tahun dan sejak kecil telah ditempa jalan tanjak.

Dari soal cari air hingga lalu lintasnya. Terkena kiriman pada rumah berupa lemparan isi truk dan juga armadanya,  itu sebagai bonus pulung, keberuntungan.

Ingatan sesepuh 20-an tahun lalu. Beliau yang berusia 70-an tahun berucap, “Beda! Kini sudah menghilang dan tak lagi ada ramainya obor yang lewat.”

Hanya raungan mesin berlalu-lalang mencari arah yang tak jelas. Ngalor ngidul dan ngetan ngulon  atau bolak-balik saja. Kini sungguh beda terasa. Jalan setapak itu yang jadi rute iring-iringan obor. Para pedagang turun bukit. Tak lagi menghiasi di tengah malam.

Pemandangan warga bawah bukit sewu. Menyaksikan panorama malam. Mereka pada turun bukit menjual hasil bumi. Menerabas batas yang tersekat bukit.

Hanya ada jalan yang masih banyak bebatuan.  Obor penerangan para penjual barang dagangan. Berupa palawija. Hasil-hasil kebun sehingga mirip pindah desa. Sungguh peristiwa yang menjadi kenangan. Kini mulai geser dan menghilang.

Pemandangan sisi tertentu Gunung Kidul yang dikenal area kemiskinan, yang jadi gerbang masuk dan keluar. Salah satu keunikan dari yang ada. Yakni jalan ini diantara 4 lainnya. Karena masih tergolong baru.

Lewat Bundelan Hills. Nama yang tambah gaul. Nama dulunya Jonjrongan Tancep. Entah apa yang menyebabkan itu diubah namanya. Yang jelas Tancep itu kemudian nama kelurahan. Dan Bundelan adalah nama dukuhnya. Sehingga di pintu gapura terpampang sebuah tulisan besar. Selamat Datang di Bundelan Hills.
***
SEIRING zaman berlalu, lalu lintas kian ramai. Butuh akses cepat dalam berkomunikasi. Dibangunlah lahan, diperlebar dan dihaluskan dari benjolan batu cadas. Beralihnya jalan obor ke arah lalu lintas kendaraan besar baru saja dibuka. Selain medan yang berat juga tantangan nyali.

Tempat yang masih menyimpan beberapa mitos yang membuat grogi. Karena baru saja ada truk yang bablas terperosok ke jurang. Termasuk rombongan anak-anak yang akan sunat juga bermasalah busnya. Itu yang membuat mistis kian kental.

Bundelan sebuah tanjakan sisi utara Gunung Kidul. Bila dilihat dari kawasan wilayah itu tersimpan banyak cerita. Termasuk ditemukan sumber mata air pitu atau artinya tujuh. Ini yang melegenda di benak warga Bundelan.

Air yang sampai saat ini masih jadi saksi. Jasa dari seorang sesepuh yang dituakan. Atas saran yang jadi panutan. Muncullah air yang kini masih lestari.
***
ORANG pada membuka mata. Bahwa lereng Bundelan mempunyai nilai besar. Terutama bagi perwujudan desa yang unggul. Seorang punggawa desa paham harus mengolah dengan polesan andal.

Jer basuki mawa bea,” kata sesepuh untuk rela berkurban demi sebuah cita.

Termasuk peran sesepuh bernama Ki Pancur. Karena tinggalnya di desa Pancuran. Berada di sisi timur Bundelan. Masih satu desa wilayah Tancep.

Mengulas sering terjadinya kecelakaan kebanyakan karena rem blong. Padahal tanjakan itu curam. Kemiringan 45 derajat sehingga seperti dilemparkan ke dasar jurang.

Sebegitu takutnya, pernah seseorang yang lewat sampai terkencing-kencing. Karena dilewatkan jalan yang demikian ngeri. Beruntunnya kecelakaan terjadi saat bus mengangkut anak-anak akan sunatan massal itu!
***
CERITA yang berkembang tak membuat harga tanah  menurun. Justru kian melejit saja. Mas Bakul Mi Ayam itu membeli area pada awalnya hanya 10-an juta. Mbah Kung sudah mau nawar 5 kali lipat. Edan!

Harga itu kian meninggi melebihi bukit itu. Padahal kian lama kian tambah dan tumbuh bangunan. Ada rest area. Ruang rapat. Karaoke. Semua ada di atas puncak Bundelan.

Mereka bisa melihat. Sawah warga sana. Gedung pemerintah dan rumah rakyat. Menara-menara yang masih tampak begitu rendah.

“Mahal Mas!” seorang pencari rumput berkata. Ia membeli mi ayam. Sambil ngudo roso. Padahal area pegunungan, harganya itu bisa buat beli tanah lain seluas lapangan bola.
***
MAS penjual Mi Ayam diteror.

“Ada penampakan dan suara gaib. Isu arwah orang yang meninggal di tempat ini. Termasuk truk tak bersopir,” katanya. Tetap saja mas penjual mi ayam diam dan bertahan dengan kulinernya.

Teror itu tak mampu menggoyahkan. Malah tambah seru percakapan saat itu.

“Sudah nggak usah dijual, Mas, tanahnya!” pembeli mi ayam ngomong.

”Betul, Pak!”

Ujian itu, terus meningkat. “Bagaimana 10 kali lipat?!”

“Tidak.”

***
KECERIAAN jadi pesona dan harga mahal. Pagi itu tampak mentari bersinar. Luar biasa. Pemandangan yang tak ada duanya.

“Apakah ini? Jadi daya tarik hingga ada yang menawar tanah sekian kali lipat,” batin mas penjual mi ayam.

Tak jauh dari mas penjual mi ayam jualan,  berdiri pula warung angkring milik Yu Yem yang ayu. Karena memang baru usia 30-an tahun. Pas dan strategis. Tanjakan dan selesai.

Langsung bisa mampir di sini. Ngopi. Ngeteh poci. Ngobrol. Tinggal suka yang mana. Mereka para mas dan pak. Ada saja obrolannya. Dan sesekali Yu Yem disinggung. Soal larisnya angkring. Hingga soal lain.

Tak jauh dari angkringan itu ada sumur. Mata airnya deras. Hanya satu meter air dari permukaan tanah. Berada di tepi jalan. Konon itu adalah karya Ki Pancur.

Desa tersebut  kini telah mendunia. Area untuk kawasan orang penting. Termasuk para elit warga yang suka menghirup hawa pemandangan yang terhampar di sepanjang hamparan bawah bukit.

Bangunan dengan nuansa gaya yang gaul. Ada ruang meeting. Karaoke juga ada. Rapat dan rest area. Pokoknya dijamin nyaman.

Sebagaimana kata perangkat desa yang menjadi maestro pengembangan wilayah desanya. Kian tambah erat berkat adanya jalan tembus antara Gunung Sewu dan kota-kota di dekatnya. ***

Wiyono Agung Sutanto, guru SD yang tinggal di Sambeng IV Sambirejo, Ngawen, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...