hut

Cegah Paham Radikal, Generasi Muda Harus Melek TI

Editor: Mahadeva

PALEMBANG – Generasi muda baik di SD, SMP, SMA, serta Perguruan Tinggi, hars melek dengan teknologi informasi. Hal itu untuk mencegah mereka tersesat, dan terjerumus ke paham radikalisme dan terorisme.

Inspektur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Dr. Amrizal, mengatakan, masyarakat khususnya generasi muda, harus diberikan pemahaman metode penggunaan Teknologi Informasi (TI). Informasi yang diterima, tidak boleh langsung diterima secara mentah.

“Di 2014, ada anak yang SD yang bisa bikin bom dari media sosial, belajar dari situ, ini bahanyanya. Sekarang dari internet mudah sekali mereka mendapat berita dan informasi, yang jika disimak dengan baik informasi sangat menyesatkan. Upaya kita, melakukan pendekatan seperti hari ini, lomba video pendek kita berikan bagaimana pemuda kota membuat karya seni berupa film yang menggambarkan  mereka bersatu walaupun beda budaya, agama, bahasa dan adat istiadat,” tandas Amrizal di acara Lomba Video Pendek dan Diskusi Film, yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Palembang, Kamis (18/7/2019).

Ketua FKPT Sumsel, Periansyah, mengatakan, radikalisme, terorisme adalah paham global. Keberadaanya jauh dari kearifan lokal. “Di Sumsel ini, sebenarnya enggak ada. Tetapi dunia yang sudah mengglobal ini, orang bisa tahu hanya dengan memanfaatkan gadget. Peran guru dan tua penting, dalam menolak pemahaman-pemahaman radikal tersebut, kalau tidak ya, kita semua akan kebobolan,” tandasnya.

Diskusi film, Cinta Indonesia dengan makna Bhineka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda tapi tetap satu adalah upaya membangun kesadaran mengenai perbedaan.

“Ada pemahaman hari ini, kalau perbedaan itu adalah sesuatu hal yang aneh. Padahal, berbeda itu bukan hal yang aneh, sama seperti berpikir beda tidak aneh, karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Tapi bahwa kita harus menyakini Indonesia harus kita rawat, di Sumsel suku banyak, bahasa banyak, dan itu kekayaan kita,” pungkasnya.

Lihat juga...