hut

Cuaca Buruk Akibatkan Bahan Baku Teri Rebus Minim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Cuaca buruk ditandai dengan angin kencang 15-20 knots dan gelombang hingga tiga meter membuat nelayan Kalianda enggan melaut. Imbasnya sejumlah nelayan sekaligus produsen ikan teri rebus kekurangan bahan baku.

Hasan, warga Kalianda Bawah, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, akibat pasokan minim, ia memilih membuat teri tawar dengan cara penjemuran di atas para para waring hingga kering memanfaatkan sinar matahari. Sistem tersebut dilakukan tanpa memanfaatkan garam, sebaliknya saat hasil tangkapan ikan melimpah ia memakai garam untuk perebusan.

“Saat melimpah produksi dilakukan memakai sistem perebusan sehingga disebut sebagai usaha teri rebus, pengawetan dilakukan memakai garam lalu dijemur,tapi akibat minim bahan baku hanya dibuat teri tawar,” papar Hasan saat ditemui Cendana News, Selasa (23/7/2019)

Hasan menyebut pasokan kerap diperolehnya dari nelayan bagan congkel. Harga per cekeng atau keranjang dibeli dari nelayan seharga Rp180.000 berisi 15 kilogram.

Produksi teri tawar selama kondisi kurang bersahabat cukup terbantu oleh kemarau. Pada kondisi normal dengan panas kurang sempurna, membutuhkan waktu empat hari.

“Sebaliknya saat kondisi panas matahari sempurna, hanya membutuhkan kurun waktu maksimal dua hari,” sebutnya.

Harga ikan teri tawar yang kering sempurna mencapai Rp80.000 per kilogram jenis teri katak dan jengki. Sementara jenis teri nasi di tingkat produsen bisa dijual hingga Rp150.000 per kilogram. Teri jengki yang dibuat dengan perebusan memakai garam hanya dijual Rp50.000 per kilogram.

“Harga yang berbeda disebabkan kualitas teri tawar lebih bagus dan tanpa pengawet,” tambahnya.

Sarji, nelayan produsen teri rebus di dermaga Bom membuat jaring mengisi waktu kosong saat cuaca tidak bersahabat di perairan Kalianda Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Sementara Sarji yang kerap mencari ikan teri memilih istirahat. Menggunakan waktu istirahat ia masih bisa menghasilkan uang dengan menekuni pembuatan jaring berdiameter 5 meter dari senar. Keahlian membuat jaring membuat ia memperoleh tambahan hasil dengan harga jual jaring Rp300 ribu per buah.

“Saya istirahat tidak mencari ikan dan membuat teri kering karena bahan baku masih sulit dicari, tapi waktu bisa saya pakai membuat jaring,” papar Sarji.

Saat kondisi cuaca membaik ia akan kembali mencari ikan yang akan diproduksi menjadi teri kering. Selain dibuat sebagai teri tawar saat hasil tangkapan melimpah, ia kerap menjual bahan baku ke produsen lain.

Lihat juga...