hut

Demi Pendidikan Anak, Warga Perbatasan Hibahkan Lahan

Gedung sekolah terdiri tiga ruang belajar yang berdiri di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit di Desa Sekaduyan Taka Kecamatan Sei Menggaris Kabupaten Nunukan. Lahan yang digunakan merupakan hibah warga setempat - Foto Ant

NUNUKAN – Sebuah gedung sekolah, yang terdiri tiga ruangan belajar, berdiri megah di tengah-tengah lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Sekaduyan Taka Kecamatan Sei Menggaris Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara.

Lahan seluas lima hektare yang ditempati gedung sekolah tersebutm merupakan hibah dari warga yang berdomisili di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Baco dan Abbas, mewakili warga penghibah lahan, menyatakan, warga di wilayah itu rela menyerahkan lahan perkebunan kelapa sawitnya demi kelangsungan pendidikan lanjutan bagi anak-anaknya.

Keduanya mengaku, tidak mempermasalahkan kondisi perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi untuk membangun gedung sekolah. “Kita masyarakat di sini ikhlas menyerahkan lahan perkebunan kelapa sawit untuk bangunan sekolah demi kepentingan bersama,” tandasnya.

Abdullah Tangsi, selaku penggagas pembangunan gedung belajar sekolah mengutarakan, jarak sekolah dengan jalur trans Kalimantan di Desa Sekaduyan Taka sejauh tiga kilometer. Selain jangkauan yang jauh, kondisi jalan menuju ke sekolah sangat memprihatinkan. Masih berupa tanah yang licin, terutama saat musim hujan.

Lokasi yang sangat jauh tersebut tidak dipermasalahkan oleh warga setempat, sebab sangat sulit mendapatkan lahan yang dekat dari jalan raya (aspal). Gedung sekolah yang dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN 2018 tersebut, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat ini masih berstatus filial dari SMPN Tabur Lestari di Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan.

Akan diupayakan menjadi SMPN yang berdiri sendiri, sehubungan dengan sulitnya anak-anak di Desa Sekaduyan Taka melanjutkan sekolah setelah lulus SD. Selama ini, anak-anak lulusan SD di daerah tersebut melanjutkan pendidikan di ibu kota Kabupaten Nunukan, dengan jarak yang sangat jauh dan memerlukan transportasi laut.

Begitu pula bagi anak-anak yang melanjutkan pendidikan di SMPN Tabur Lestari, terpaksa menyewa rumah tempat tinggal karena jarak yang sangat jauh, meskipun masih berada di satu kecamatan.

Keberadaan gedung sekolah dengan menggunakan lahan hibah masyarakat tersebut, menjadi solusi bagi anak-anak di desa itu untuk melanjutkan pendidikan. Gedung baru pertama kali digunakan pada tahun ajaran 2019-2020, karena sarana prasarana serta mebel yang belum tersedia.

Saat ini sekolah baru memiliki meja dan kursi serta papan tulis. Sedangkan buku-buku pelajaran, masih hasil swadaya masyarakat. Sedangkan fasilitas lain seperti lemari, kamar mandi, ruang guru dan WC belum ada. Diharapkan, pemerintah daerah segera menetapkan sekolah tersebut untuk berdiri sendiri dan diberi bantuan sarana belajar. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!