hut

DKP Sumbar Tertibkan Bagan di Danau Singkarak

Editor: Koko Triarko

SOLOK – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat, menertibkan kapal bagan yang beroperasi di Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Senin (15/7).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Yosmeri, mengatakan, penertiban kapal bagan tersebut merupakan upaya menyelamatkan populasi ikan bilih yang ada di danau tersebut. Selama ini, kapal bagan dinilai telah melakukan cara penangkapan ikan yang dapat memusnahkan populasi ikan bilih.

“Selama ini kapal bagal yang menangkap ikan di sepanjang Danau Singkarak, turut berdampak kepada kepunahan ikan bilih. Sebab, alat yang digunakan menangkap ikan itu tidak ramah lingkungan. Kita perlu mengambil tindakan, supaya kapal bagan tidak diperbolehkan lagi beroperasi,” katanya, Senin (15/7/2019).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat Yosmeri (kanan) tengah bersosialisasi kepada masyarakat kawasan Danau Singkarak sebelum dilakukan razia/ Foto: M. Noli Hendra

Ia menyebutkan, sebelumnya razia serupa juga telah dilakukan pada November 2018. Waktu itu, sudah ada kesepakatan untuk melakukan razia, bersama pemerintah kabupaten dan kota serta kesepakatan tokoh masyarakat setempat. Namun, ternyata hal itu belum menyebabkan efek jera.

“Sebagian besar sudah ada yang mau untuk ditertibkan, tapi ada beberapa kapal lagi yang sepertinya tidak mau diajak bekerja sama. Makanya, hari ini kita tertibkan kapal bagan tersebut, karena jika dibiarkan bisa habis populasi ikan bilih ini,” ungkapnya.

Menurut Yosmeri, razia kali ini dibagi dalam dua pola, yakni wilayah laut dan darat. Tim yang menelusuri wilayah laut memeriksa bagan yang berada di tengah laut, kemudian menariknya ke daratan. Kemudian tim yang ada di darat meminta pemilik bagan untuk membongkar sendiri bagannya.

“Sebelum kita lakukan razia ini, kita sudah layangkan surat edaran dari gubernur kepada bupati. Jika saat razia masih belum tuntas akan kita lakukan lagi bulan depan, begitu seterusnya hingga persoalan bagan ini tuntas,” terangnya.

Menurut Yosmeri, sejak adanya bagan yang menangkap ikan di Danau Singkarak, persentase ikan bilih mengalami penurunan hingga 80 persen.  Bahkan ketika dilakukan razia terdahulu, untuk mencari ikan satu kilogram saja sangat sulit, sebab volume ikan yang terus mengalami penurunan.

“Jadi kini ikan bilih ini dikabarkan populasi tinggal sedikit. Kondisi ini ternyata berimbas kepada masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pengolahan ikan bilih. Mereka sulit untuk mencari ikan bilih, untuk dibuat berbagai makanan ciri khas Danau Singkarak,” tegasnya.

Razia juga merupakan upaya Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman populasi ikan di Danau Singkarak. Selain melakukan sosialisasi kepada nelayan, juga telah dilakukan pelepasan bibit ikan ke Danau Singarak.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengakui adanya kapal bagan yang turun ke danau melakukan penangkapan ikan, dapat mengganggu hasil tangkapan nelayan.

Ia menyebutkan, saat ini ada sekitar 5.000 nelayan tradisional yang menggantungkan ekonomi hidupnya di Danau Singkarak. Ikan bilih merupakan ikan khas yang ada di danau tersebut. Kini, nelayan tradisional dihadapkan dengan adanya nelayan bagan.

“Jika bagan terus-menerus dibiarkan di Danau Singkarak ini, maka akan memusnahkan ikan bilih dan perekonomian nelayan kecil,” katanya.

Nasrul berharap, Danau Singkarak tidak seperti Danau Maninjau, yang kini jumlah kerambanya mencapai 21.000, dan jumlah keramba yang seperti itu dapat mengganggu danau. Pada kapasitas semestinya hanya sekitar 6.000. Untuk itu, diminta kepada pengguna bagan dan seluruh komponen masyarakat bisa menjaga danau.

Wagub juga menyinggung tentang tata ruang yang ada di sekitar Danau Singkarak, agar di tata lebih baik lagi. Masyarakat diimbau agar tidak membangun rumah di kawasan danau, karena selain dapat menutup pemandangan ke arah danau, juga dikhawatirkan limbah rumah tangga mengganggu populasi ikan yang ada di dalam danau.

Lihat juga...