hut

Dorong Swasembada Kedelai, Batan Luncurkan Varietas Kemuning

Editor: Mahadeva

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan dan Peneliti Kedelai Batan Yuliasti menunjukkan kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2, saat acara launching varietas unggul Kemuning di PAIR Batan - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengeluarkan dua varietas kedelai baru, Kemuning 1 dan Kemuning 2. Hal itu diharapkan mampu menjawab kebutuhan kedelai yang mencapai 2 juta ton per-tahun.

Harapannya, komunitas baru ini akan mampu mengurangi porsi impor kedelai. Dan target swasembada kedelai di 2020 bisa tercapai. Namun, untuk mencapai harapan tersebut, tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan bibit unggul. Tetap harus didukung dari para pengambil kebijakan.

“Batan diminta untuk berinovasi. Dalam artian semua hasil penelitian harus bisa dirasakan manfaatnya dan meningkatkan taraf sosial ekonomi. Dan varietas kedelai ini adalah salah satu jawabannya,” kata Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, ditemui di PAIR Batan Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Anhar menegaskan, keberhasilan Batan menciptakan inovasi di bidang pangan, juga harus didukung oleh kebijakan nasional terkait kedelai. “Kita bisa memproduksi varietas unggul untuk tanaman pangan. Bahkan bisa juga di tanaman industri. Tapi memang membutuhkan kolaborasi dengan lembaga lain. Saat ini, kedelai kita masih harus bersaing dengan produk impor. Bukan masalah kualitas, tapi masalah harga. Ini bukan Batan yang bisa menyelesaikan. Saya sudah menyampaikan ke Presiden Jokowi, kan mau swasembada pajali (padi, jagung dan kedelai). Ya, harus ada kontribusi dari pihak lainnya,” tutur Anhar.

Anhar menyebut, Batan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, untuk menyosialisasikan keberadaan inovasi tersebut kepada petani. Masih banyak petani yang tidak mengetahui, keberadaanya dan bagaimana cara memperoleh bibit unggul yang dihasilkan Batan.

“Bibit kedelai yang baru ini, Kemuning 1 dan Kemuning 2 memiliki kelebihan dalam hal kecocokan di lahan kering. Sehingga ini akan menjawab terkait masalah cuaca dan juga ketersediaan lahan yang optimal di Indonesia,” tandasnya.

Peneliti Kedelai Batan, Yuliasti, menjelaskan, Kemuning berasal dari Kedelai Mutan Tahan Kering. Yaitu, varietas yang merupakan perbaikan dari varietas Panderman, dengan memanfaatkan teknik mutasi radiasi. “Selain tahan terhadap lahan kering, varietas Kemuning juga mempunyai keunggulan berupa produktivitas yang tinggi. Produksinya mampu mencapai 2,87 ton per-hektar untuk Kemuning 1, dan 2,92 ton per-hektar untuk Kemuning 2,” papar Yuliasti.

Ke-dua varietas tersebut juga memiliki batang yang lebih pendek dibandingkan induknya. Dengan demikian diyakini tanamannya tidak mudah rebah, mempunyai kandungan protein yang tinggi, dan ukuran biji yang besar dan rasa lebih gurih.

“Rasanya yang gurih, memang merupakan salah satu keunggulan. Bahkan lebih gurih dari kedelai impor. Karena rasanya ini, salah satu penghasil tempe, yaitu Rumah Tempe, sudah setuju untuk mengambil bahan baku dari Batan. Dan varietas ini mampu bersaing dengan kedelai impor untuk ukuran,” kata Yuliasti.

Lihat juga...