hut

Festival Condet Lestarikan Budaya Betawi

JAKARTA — Sore menjelang petang, jalanan di sekitar Condet, Jakarta Timur, tampak padat merayap dipenuhi sejumlah kendaraan pribadi roda empat dan roda dua.

Di pinggiran jalannya, banyak juga terlihat hilir mudik orang-orang yang datang ke satu arah yang sama, menuju Festival Condet.

Di muka salah satu ruas jalan, orang-orang tampak memarkir kendaraan mereka sebelum masuk lebih dalam lagi ke kerumunan orang yang berjejal memadati ruas jalan tersebut.

Di sepanjang ruas jalan itu, warga yang datang dari berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya tampak antusias melihat-lihat ratusan tenda berukuran sekitar 2×2 meter yang berjejer di sepanjang jalan tempat digelarnya Festival Condet, sepanjang Gang Bulu hingga 2-3 kilometer ke depan dengan ujungnya berakhir di Jalan Gardu, Condet.

Umumnya, orang-orang akan mengerumuni satu tenda yang sebelumnya sudah dikerumuni oleh banyak orang, sehingga jalan menuju dua panggung utama yang ada di festival itu menjadi kian tersendat.

Meski padat merayap, orang-orang tidak terlihat lelah. Sementara anak-anak yang datang bersama orang tua mereka juga tampak riang gembira menantikan kejutan-kejutan di depan mata mereka di sepanjang jalan itu.

Misna, salah satu pengunjung yang datang bersama suami dan dua anak, mengatakan datang ke festival itu untuk sekadar melihat-lihat pertunjukan apa saja yang disajikan di festival tersebut.

“Jam setengah lima tadi datangnya. Tahu acara ini setelah tahu infonya dari TV,” katanya sembari menggandeng kedua anaknya.

Fuad, pengunjung lain, juga datang bersama anak dan cucunya untuk menikmati akhir pekan sembari melihat banyak hiburan.

“Kebetulan rumahnya dekat dari sini. Jadi sekalian lihat-lihat hiburan akhir pekan,” tuturnya.

Selain menikmati pertunjukan seni yang ditampilkan di dua panggung utama di festival itu, Fuad juga mengikutsertakan cucunya pada beberapa lomba yang juga diadakan di sana.

“Ada lomba melukis, menggambar, pramuka. Kalau cucu saya, saya ikutsertakan di lomba mewarnai,” katanya sembari tersenyum bangga kepada cucunya.

Festival Condet merupakan festival tahunan yang diselenggarakan untuk melestarikan budaya Betawi.

Festival tersebut, kata salah satu panitia, Kamal, sudah memasuki tahun keempat dari sejak pertama kali festival itu diselenggarakan.

“Festivalnya sudah diadakan untuk keempat kalinya. Tujuannya tentu untuk melestarikan budaya Betawi sekaligus ajang silaturahmi,” katanya sambil menyaksikan pertunjukan Lenong di salah satu dari dua panggung utama.

Festival Condet umumnya digelar selama dua hari, dan pada tahun ini diselenggarakan pada 27-28 Juli 2019, dengan awal pertunjukan dimulai dari pukul 08:00 WIB hingga 22:00 WIB.

Kamal menyebutkan ada banyak pertunjukan budaya Betawi yang ditampilkan selama dua hari festival tersebut, di antaranya adalah beberapa tarian khas Betawi, lenong, gambus, pencak silat dan lain sebagainya.

Ada juga perlombaan seperti mewarnai untuk anak-anak usia lima sampai enam tahun, menggambar untuk anak usia 7-8 tahun, mural untuk umum dan juga pramuka.

Anti, salah satu pengunjung mengaku sudah setiap tahun mengikutsertakan anaknya pada beberapa perlombaan yang diadakan di festival itu.

“Tahun ini, saya mengajak anak dua anak saya untuk mengikuti lomba mewarnai dan menggambar,” katanya, dengan sesekali mencari-cari anaknya yang terlepas dari tangannya di tengah keramaian pengunjung.
Selain pertunjukan budaya khas Betawi, festival tersebut juga menyuguhkan beraneka ragam makanan khas Betawi dan sajian lain yang tak kalah menggonda bagi para pecinta kuliner.

Makanan khas Betawi yang dijajakan di festival itu di antaranya adalah jajanan paling khas bagi warga Betawi, yakni telor ceplok.

Bir pletok, dodol Betawi, soto, ketupat tahu, ketupat sayur, pecel Madiun, nasi bebek, pecel ayam, bakso, mie ayam dan masih banyak lainnya juga disajikan di festival itu.

Selain makanan, banyak juga jajanan dan minuman yang digemari kalangan anak-anak hingga remaja seperti contohnya es naga, bakso pentol, ceker pedas, es durian, dan lain sebagainya.

Semakin malam, suasana festival semakin ramai dikunjungi banyak orang.

Meski ada ribuan pengunjung yang datang ke festival itu, Boim, pedagang, mengaku barang dagangannya tak selaku beberapa tahun sebelumnya yang banyak dilirik pengunjung.

Pedagang yang menjual pakaian dan asesoris khas Betawi seperti peci, celana boim, baju pangsi, pin, sabuk, gelang, boneka dan topeng ondel-ondel itu mengaku pendapatannya berkurang sampai separuh dibandingkan tahun lalu.

“Kalau tahun lalu sehari bisa dapat omzet Rp4 juta. Kalau tahun ini, sampai hari terakhir ini saja baru dapat sekitar Rp3 juta,” katanya.

Boim memperkirakan penurunan itu disebabkan oleh penyelenggaraan festival yang digelar pada tanggal 27-29, yang jika didasarkan pada kalender penggajian, banyak pekerja yang sudah mulai kehabisan uang.

“Soalnya tanggal tua. Jadi banyak orang yang kehabisan uang,” katanya.

Selain faktor penanggalan, tahun politik juga dinilainya telah menurunkan perekonomian warga.

Selain itu, jadwal acara yang berdekatan dengan acara budaya Lebaran Condet, yang diadakan pada dua pekan sebelumnya, juga dianggapnya menjadi faktor yang mendorong penurunan daya beli warga di festival itu.

“Dua pekan lalu juga ada Lebaran Condet, jadi mungkin orang-orang sudah mulai kehabisan uang,” katanya .

Meski demikian, Boim dan pedagang-pedagang lain merasa bersyukur dengan adanya festival budaya tersebut.

“Meskipun pendapatan kurang, saya tetap bersyukur dan berharap semoga masyarakat bisa lebih mengenal budaya khas Betawi dengan adanya pergelaran budaya ini,” katanya sembari tersenyum dan berlalu, memasuki kerumunan pengunjung untuk menawarkan barang dagangannya. (Ant)

Lihat juga...