hut

Gedung Rusak, Penderita Thalasemia Terpaksa Lakukan Transfusi Berdesakan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BANYUMAS — Ratusan penderita thalasemia yang melakukan transfusi darah rutin di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas, sudah dua tahun ini harus merasakan suasana tak nyaman. Sebab, gedung Instalasi Terpadu Thalasemia, tempat mereka biasa melakukan pengobatan rusak akibat gempa 2017 dan hingga kini belum diperbaiki.

Ketua Yayasan Thalassemia Cabang Banyumas, Abdul Azis Suparno. Foto : Hermiana E.Effendi

Tempat untuk transfusi darah kemudian dipindahkan ke lantai dua UGD RSUD Banyumas dengan fasilitas seadanya. Akibatnya, merekapun harus berdesakan saat melakukan transfusi darah, hampir tak ada celah antar tempat tidur pasien. Padahal untuk transfusi darah hingga pemulihan kondisi, paling tidak dibutuhkan waktu hingga satu jam lebih.

Ketua Yayasan Thalasemia Cabang Banyumas, Abdul Azis Suparno mengatakan, pihaknya sudah mengajukan perbaikan, baik kepada Pemkab Banyumas maupun kepada Pemprov Jateng, karena gedung tersebut merupakan bantuan dari pemprov. Namun, hingga dua tahun berlalu, belum ada tanggapan.

“Kondisi gedungnya masih rusak dan tidak bisa dipergunakan. Para penderita thalasemia terpaksa melakukan trasfusi darah di lantai dua UGD sampai saat ini,” tuturnya, Selasa (23/7/2019).

Menurut Abdul Azis, perbaikan gedung mendesak dilakukan, sebab jumlah penderita yang melakukan transfusi darah sangat banyak. Tidak hanya berasal dari wilayah Banyumas saja, tetapi juga dari luar kota seperti Banjarnegara, Cilacap, Purbalingga, Kebumen, Tegal hingga Brebes.

“Jumlah penderita thalasemia di Banyumas yang tergabung dalam yayasan kami ada sekitar 450 orang dan setiap penderita harus melakukan transfusi darah minimal sebulan sekali. Bisa dibayangkan kepadatan lokasi transfusi, belum lagi ditambah dengan penderita dari luar wilayah Banyumas,” terangnya.

Sebelumnya, di gedung thalasemia, setiap hari bisa menampung pasien untuk transfusi darah hingga 35 orang. Gedung tersebut terdiri dari tiga lantai, fasilitas tiap kamar untuk transfusi juga sangat memadai, sehingga penderita nyaman.

Sementara kondisi di lantai dua UGD, tempat pasien menjalani transfusi darah selama dua tahun terakhir, maksimal hanya bisa menampung 20 pasien per hari. Itupun dengan kondisi tempat tidur pasien saling berhimpitan.

“Transfusi darah ini merupakan upaya pengobatan untuk memperpanjang hidup pasien thalasemia dan mereka harus menjalani transfusi seumur hidup. Kondisi tubuh pasien cenderung melemah saat menjalani transfusi, sehingga butuh waktu cukup untuk istirahat. Jadi gedung thalasemia itu sangat penting bagi mereka,” pungkasnya.

Lihat juga...