Harga Jual Tembakau Basah di Lombok, Turun

Editor: Koko Triarko

MATARAM – Sebagian petani tembakau di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sudah mulai melakukan panen untuk diomprong. Namun, banyak petani mengeluhkan tahun ini harga jual tembakau turun drastis.

Pada musim tanam tahun ini, harga tembakau mengalami penurunan cukup drastis dibandingkan harga jual tahun sebelumnya. Tahun lalu, harga tembakau di kisaran Rp230.000 hingga Rp260.000 per kwintal, tahun ini harga daun tembakau basah hanya Rp170.000 per kwintal.

“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, harga tembakau sekarang jauh lebih murah, hanya Rp170.000 per kwintal” kata Nurhidayah, petani tembakau di Lombok Tengah, Senin (15/7/2019).

Menurutnya, harga tersebut kalau dihitung dengan biaya mengupah buruh memetik dan mengangkut daun tembakau dari sawah ke pinggir jalan, masih sangat rendah dan belum sebanding.

Belum lagi kalau menghitung biaya dikeluarkan dari proses pengolahan lahan, penanaman, pemupukan dan perawatan, yang menghabiskan biaya tidak sedikit.

“Upah buruh satu orang untuk memetik dari pagi sampai siang Rp25.000, belum lagi biaya mengangkut dari sawah  ke jalan raya, kali sekian orang, jelas tidak sedikit,” katanya.

Namun, petani mau tidak mau menjual hasil panen, daripada tembakau tidak terjual dan mengering di pohon. Nurhidayah mengaku tidak tahu pasti penyebab turunnya harga jual tembakau pada musim tanam tahun ini. Tapi, ia mengakui jika tahun ini luasan lahan tanam tembakau memang bertambah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Mungkin karena banyak yang menanam, makanya harga daun tembakau murah, kalau dulu yang menanam sedikit, tidak sebanyak sekarang,” katanya.

Pengakuan berbeda diungkapkan Tanahar, petani tembakau yang mengaku harga tembakaunya dibeli pengepul dengan harga Rp220.000 per kwintal.

Dikatakan, harga jual tembakau miliknya yang sekarang hampir sama dengan harga jual tahun sebelumnya, dengan pembeli yang sama dan telah menjadi langganan setiap musim tanam tembakau.

“Kalau saya kan jadi petani tembakau binaan dari dulu, makanya harga masih sama dengan harga sebelumnya, mungkin kalau ada petani yang tembakaunya dibeli dengan harga lebih rendah, karena jadi petani swadaya, bukan petani binaan,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia  (APTI) Provinsi NTB, Sahminuddin memproyeksikan petani tembakau Virginia, pada 2019 ini akan mengalami kerugian hingga Rp400 miliar lebih.

Angka ini terbentuk dari menurunnya kuota pembelian tembakau oleh perusahaan mitra dengan beragam alasan. Tahun ini, APTI memperkirakan lebih dari 10.000 ton tembakau petani tak bisa terbeli.

Jika dikalikan dengan harga Rp42.000/Kg, sesuai harga pembelian tahun lalu, terakumulasi kerugian petani akan mencapai lebih dari Rp400 miliar.

Lihat juga...