Harga Tembakau Rajang di NTB Lebih Stabil dari Tembakau Omprongan

Editor: Koko Triarko

LOMBOK – Meski harga tembakau omprongan di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada musim tanam tahun ini mengalami penurunan, namun tidak berpengaruh terhadap tembakau rajang, yang harganya tetap mahal dan banyak diburu masyarakat sebagai rokok pilitan di sejumlah pasar tradisional.

Akim, petani tembakau rajang di Kabupaten Lombok Timur, mengatakan, penurunan harga tembakau omprongan tidak berpengaruh terhadap tembakau rajang, karena memang cara pengolahannya berbeda.

“Kalau tembakau omprongan, harganya tergantung perusahaan, kalau gudang sudah penuh, atau kualitas tembakau kurang bagus akibat cuaca, sudah pasti harga akan turun,” kata Akim, Senin (22/7/2019).

Sementara tembakau rajang, diolah sendiri oleh petani secara tradisional, dan kalau disimpan dalam waktu lama juga tidak mudah rusak, selama proses pengeringan dilakukan dengan baik.

Akim, petani tembakau rajang di Kabupaten Lombok Timur/ Foto: Turmuzi

Tembakau rajang peminatnya juga tidak kalah banyak, dan diburu masyarakat sebagai rokok pilitan, baik untuk konsumsi sendiri maupun rokok pilitan di acara syukuran melibatkan banyak orang.

“Masyarakat perokok kan tidak setiap hari bisa membeli rokok bungkusan yang dijual, tembakau rajang bisa jadi pilihan untuk merokok menggunakan kertas rokok maupun kulit jagung,” katanya.

Bahkan, ada di antara masyarakat, terutama orang tua lebih nikmat merokok dengan tembakau rajang menggunakan kulit jagung daripada rokok kemasan, makanya tembakau rajang tetap banyak dibeli masyarakat.

Sufardi, warga Desa Kabar, Lombok Timur, mengatakan, harga tembakau kering satu ball di pasar tradisional bisa mencapai Rp400.000 sampai Rp700.000. Sementara kalau diecer satu paketan kecil, harganya bisa Rp40.000 sampai 60.000. Dari sisi risiko, menanam tembakau rajang juga bisa minim, bahkan tidak ada, hanya mengeluarkan biaya untuk upah buruh memetik daun tembakau dan melakukan proses pemotongan daun tembakau secara tradisional.

Sebelumnya, sejumlah petani mengeluhkan turunnya harga tembakau omprongan. Harga tembakau basah perkwintal hanya Rp170.000, bahkan ada yang hanya Rp150.000.

Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga tembakau pada musim 2018. Harga tembakau mencapai Rp200.000 hingga 250.000 per kwintal.

Lihat juga...