hut

Hasil Tangkapan Nelayan di Kalianda Turun Akibat Cuaca Buruk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Angin Selatan di wilayah perairan Kalianda, menyebabkan hasil tangkapan ikan nelayan, menurun. Kondisi yang telah terjadi dua hari ini, pun mulai memaksa sejumlah nelayan berhenti melaut untuk sementara.

Hendri, nelayan tangkap dengan jaring milenium, menyebut sudah dua hari terakhir kondisi cuaca tidak bersahabat. Sejumlah nelayan tangkap memilih istirahat, menunggu kondisi cuaca membaik. Sementara bagi yang terus melaut, hasil tangkapan pun taj maksimal.

Ia mengaku berangkat melaut sejak Minggu (21/7) petang dan pulang Senin (22/7), hanya membawa 30 kilogram ikan manyung, tengkurungan, simba dan udang lobster. Pada kondisi normal, ia kerap mendapatkan tangkapan lebih dari 60 Kilogram ikan dengan cara menjaring.

Rasji, salah satu nelayan membuat jaring tangkap jenis rampus disela sela waktu istirahat melaut akibat kondisi cuaca tak bersahabat -Foto: Henk Widi

Sebagian ikan tengkurungan dan simba dijual ke pengepul dengan harga Rp45.000 per kilogram, dan sebagian untuk konsumsi keluarga.

Menurutnya, peralihan angin Selatan merupakan perubahan setelah terjadi angin timur. Saat angin timur melanda, kondisi perairan Kalianda cukup teduh, namun saat angin selatan kondisi perairan didominasi gelombang tinggi.

Informasi terkait kondisi cuaca diperolehnya dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Panjang.

“Informasi cuaca selain dari kondisi nyata di lapangan, kerap diperoleh dari prakiraan cuaca. Dan, sesuai informasi perairan barat Lampung dan Selat Sunda bagian Selatan sedang mengalami gelombang tinggi mencapai tiga meter lebih,” ungkap Hendri, saat ditemui Cendana News di Dermaga Bom Kalianda, Senin (22/7/2019).

Hendri juga mengungkapkan, sesuai prakiraan cuaca BMKG Maritim Panjang, gelombang tinggi mencapai 3,0 meter. Selain gelombang tinggi, angin dari timur ke Tenggara di perairan Barat mencapai 10 hingga 20 knots. Padahal, kondisi normal kecepatan angin hanya mencapai 7 hingga 10 knots.

Kecepatan angin tersebut lebih teredam karena perairan Kalianda terlindungi pulau Sitiga, pulau Sebuku dan Sebesi. Jenis perahu katir membuatnya masih tetap bisa melaut, meski harus tetap waspada.

Berbeda dengan Hendri yang masih melaut dan mendapat tangkapan, Rasji, nelayan lain memilih istirahat. Nelayan tangkap jenis jaring rampus tersebut mengaku sebagian nelayan lain memilih pulang kampung.

Sementara, dirinya yang merupakan nelayan pendatang asal Cirebon, Jawa Barat, memilih menghabiskan waktu dengan membuat jaring. Jaring rampus yang dibuat akan dipergunakan untuk mengganti jaring yang rusak.

“Selama tiga hari saya bisa membuat satu jaring, dengan ukuran lima meter. Bisa digunakan mengganti jaring rusak,” ungkap Rasji.

Nelayan jaring rampus dengan perahu kasko, umumnya memilih istirahat saat cuaca buruk. Selama angin selatan dan angin barat, faktor keselamatan menjadi alasan tidak melaut.

Sebagian nelayan yang tidak melaut seperti dirinya, memilih memperbaiki alat tangkap dan perahu. Nelayan yang melakukan perbaikan perahu mempergunakan fasilitas tempat pengedokan (docking) di Dermaga Bom.

Hasan, nelayan jenis jukung penangkap teri, juga menyebut angin Selatan membuat hasil tangkapan menurun. Sebagai pembuat teri rebus, ia hanya mendapatkan sekitar 10 cekeng ikan teri katak, jengki dan tanjan. Pada kondisi normal, hasil tangkapan sekitar 40 cekeng bisa diperolehnya. Akibat hasil minim, jumlah ikan teri yang dijemur lebih sedikit dibanding kondisi normal.

Menurutnya, ikan teri hasil tangkapan dibuat tanpa diberi garam atau teri tawar. Pada saat tangkapan melimpah, pembuatan ikan teri kering kerap dilakukan dengan garam setelah direbus. Meski demikian, ia mengaku harga ikan teri kering tawar bisa mencapai Rp80.000 per kilogram, sementara ikan teri asin hanya mencapai Rp50.000 per kilogram di tingkat nelayan.

Minimnya hasil tangkapan membuat aktivitas pelelangan ikan hanya melelang ikan dalam jumlah terbatas, termasuk teri.

Angin kencang yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan membuatnya memilih melaut di sekitar pulau Sebuku, agar terlindung dari angin kencang. Selain dirinya, sejumlah nelayan tangkap di Kalianda memilih istirahat mencari ikan akibat cuaca buruk. Sejumlah nelayan melakukan tradisi ngebabang atau pulang kampung ke tempat asal, hingga kondisi cuaca membaik.

Lihat juga...