hut

Hindari Kredit Macet, Tabur Puja Tolak Pinjaman Anggota Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami) Padang, Sumatera Barat, harus mengambil langkah untuk menolak sejumlah pengajuan pinjaman Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) anggota baru yang masuk ke meja Asisten Kredit (AK), masing-masing Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).

Manajer Tabur Puja Padang, Margono Okta, mengatakan, salah satu alasan tidak lagi melakukan pencairan kepada pengajuan pinjaman yang baru di Posdaya, karena kondisi di masing-masing Posdaya yang telah lama berkembang pinjaman Tabur Pujanya, telah rasa cukup bagus membantu usaha rakyat.

Ia menyebutkan, sebagaian besar pinjaman modal usaha yang telah diberikan oleh Tabur Puja kepada masyarakat prasejahtera, kini telah mampu tumbuh dengan baik. Mulai dari mendapatkan pencairan pinjaman modal usaha dari pinjaman pertama yakni Rp2 juta, hingga mencapai Rp5 juta.

“Jadi kita memang mengambil kebijakan yang baru yakni tidak lagi melakukan pencairan bagi pengajuan pinjaman anggota baru, dan hanya melakukan proses terhadap pengajuan pinjaman anggota lama. Hal ini sebenarnya untuk menghindari terjadi tunggakan kredit juga,” katanya, Senin (15/7/2019).

Menurutnya, sejauh ini cukup banyak tunggakan kredit itu terjadi kepada anggota yang baru menerima pencairan pinjaman yakni Rp2 juta. Sebab, di masa-masa pinjaman Rp2 juta itu, merupakan masa dimana masyarakat mencoba untuk tumbuh.

Namun, ternyata cukup banyak juga usaha baru tersebut malah merugi, akibatnya pinjaman yang diberikan Tabur Puja, sulit untuk dikembalikan.

“Sebenarnya bagi kita untuk memberikan pinjaman berlanjut itu, kepada anggota yang lancar melakukan pembayaran kredit. Sehingga apabila masuk pengajuan kedua, tentu diterima pengajuannya sebanyak Rp3 juta. Tapi bagi yang nunggak kredit, kita tidak bisa memproses pengajuan yang masuk, artinya cukup di pinjaman Rp2 juta saja,” ujarnya.

Meno menyatakan, melihat  kondisi usaha rakyat di masing-masing Posdaya cukup banyak, tumbuh dengan baik. Apalagi di masing-masing Posdaya itu anggotanya mencapai 100 orang, dengan demikian bisa dikatakan sebagian besar masyarakat sudah terbantu oleh Tabur Puja.

Lalu, jika pun ada pengajuan anggota baru, hal tersebut diperkirakan akan sulit berkembang juga.

“Kebanyakan usaha itu pedagang di sekolah-sekolah yang menjual makanan jajanan anak-anak sekolah. Nah kalau seluruh pengajuan pinjaman untuk usaha seperti itu, bagaimana usaha bisa berkembang. Ujung-ujungnya terjadi tunggakan kredit,” jelasnya.

Untuk itu, Meno menyatakan, setiap pengajuan pinjaman anggota yang baru tidak lagi diproses. Hanya saja apabila usaha yang dijalani benar-benar lagi masa berkembang dan butuh modal dana, mungkin saja ada pertimbangan dari Tabur Puja.

Begitu juga kepada anggota lama yang mengajukan pinjaman modal usaha, ke tahap-tahap selanjutnya, yakni dari Rp3 juta, Rp4 juta, dan Rp5 juta, butuh diseleksi juga.

“Jadi tidak semua pengajuan yang masuk langsung diterima. Tentu diproses dulu, lihat dulu kondisi usaha yang tengah dijalani. Jika bagus bisa diterima pengajuannya, dan apabila tidak bagus, maka dicukupkan saja pinjaman awalnya,” ungkapnya.

Ketua KSU Derami Padang Sayu Putu Ratniati/Foto: M. Noli Hendra

Sementara itu, Ketua KSU Derami Padang, Sayu Putu Ratniati, mengatakan, di Padang persoalan dana Tabur Puja yang ada di setiap Posdaya, untuk tunggakan kredit memang perlu dilakukan upaya antisipasi.

Sepertinya seleksi setiap pengajuan pinjaman yang masuk ke AK di masing-masing Posdaya. Karena memang, banyak hal yang menyebabkan terjadinya tunggakan kredit di KSU Derami.

“Dari sisi pandangan kita, selain yang disampaikan oleh Manajer Tabur Puja, juga ada persoalan lainnya. Seperti halnya terjadi pembelokan dana. Setidaknya KSU Derami mencatat jumlah Posdaya yang terbilang bermasalah itu berada di bawah angka 5 Posdaya. Akibatnya, Posdaya itu dihentikan pencairan pinjaman modal usahanya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pembelokan dana yang telah dilakukan oleh Posdaya itu berupa tanda tangan palsu dan berkas-berkas yang dihimpun atas nama masyarakat.

Setelah berhasil melancarkan cara itu, dana yang telah dicairkan tidak diberikan atas nama dan tanda tangan itu, melainkan digunakan oleh pengurus Posdayanya. Intinya hal ini dilakukan oleh oknum Posdaya, bukan kehendak dari anggotanya.

“Dalam proses pencairan itu kan ada berkas yang diajukan ke AK dan setiap pengajuan itu, AK dengan pengurus Posdaya berkoordinasi, karena masyarakat di sana yang lebih tahu ialah pengurus Posdayanya. Apabila oke kata pengurus Posdayanya, maka akan disetujui pengajuan pinjamannya oleh AK yang bertugas. Ternyata hal ini bisa dimanfaatkan juga oleh pengurus Posdaya,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan itu diketahui setelah terjadi tunggakan, dan membuat AK menemui nama-nama yang tercantum dalam pengajuan pinjaman dana modal usaha yang sebelumnya masuk ke meja AK.

Ternyata setelah ditemui satu per satu nama itu, masyarakat yang demikian malah kaget dan menyatakan tidak pernah mengajukana pinjaman modal usaha ke Tabur Puja di Posdaya yang bersangkutan.

Dari informasi ini, akhirnya AK menanyakan langsung ke pengurus Posdaya, dan barulah diakui oleh oknum itu, dan akibatnya KSU Derami menghentikan dan bahkan menutup Posdaya tersebut.

“Kerja yang seperti itu tidak benar, padahal di masing-masing Posdaya itu dana Tabur Pujanya mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta per pekan. Kalau dana sebanyak itu dimakan oleh oknum untuk kepentingan lain, bisa-bisa rugi KSU Derami. Bagi saya Posdaya yang demikian harus ditutup, dan harus disanksi,” tegasnya.

Kini, dengan kasus yang demikian, KSU Derami terus menyampaikan peringatan kepada setiap pengurus Posdaya dan juga AK untuk lebih teliti dalam menerima setiap pengajuan pinjaman modal usaha.

Setidaknya jangan ada lagi istilah perwakilan dalam pengajuan pinjaman modal usaha, dan ke depan harus berurusan langsung dengan nama orang yang tertera di data pengajuan dana.

Ayu juga menyatakan, semenjak adanya temuan kasus itu, Posdaya-Posdaya mulai tertib dan jujur dalam melakukan pengelolaan dana pinjaman modal usaha.

Dampaknya kini, proses pencairan dana berlangsung lebih teliti dan masyarakat yang dibantu benar-benar sesuai dengan misi Tabur Puja yakni membantu keluarga prasejahtera dengan upaya mengentaskan kemiskinan.

Dikatakannya, dengan adanya komitmen yang demikian, maka di tahun 2019 ini KSU Derami Padang turut melakukan upaya menekan rasio kredit bermasalah (NPL). Salah satu yang dilakukan, Tabur Puja menerapkan sistem pemetaan Posdaya rawan kredit macet.

Lihat juga...