hut

Indonesia Harus Waspadai Kenaikan Suhu Akibat Perubahan Iklim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Gelombang panas yang melanda wilayah Eropa beberapa hari belakangan ini, dinyatakan oleh Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, M.Sc tidak berdampak pada Indonesia. Tapi potensi kenaikan suhu, secara teroristis mampu terjadi di Nusantara.

Siswanto menyatakan, selain karena sistem sirkulasi udara yang menyebabkan gelombang panas di wilayah tersebut berbeda dan tidak mengarah atau menuju ke wilayah Indonesia, suhu panas yang mencapai lebih dari 50 derajat celcius juga sangat kecil peluangnya terjadi.

“Berdasarkan catatan historis, suhu maksimum di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat celcius. Suhu tertinggi yang tercatat dalam beberapa hari ini adalah berkisar 34-35°C di Ciputat, Semarang dan Aceh,” kata Siswanto saat dihubungi Senin pagi (29/7/2019).

Tapi Siswanto menegaskan, bukan berarti Indonesia merasa tenang. Karena berdasarkan hasil simulasi proyeksi iklim multi-model menggunakan skenario RCP4.5, pada periode 2020-2030, rata-rata wilayah daratan akan lebih panas 0,2 – 0,3 derajat celcius dibandingkan dengan rata-rata suhu udara pada periode 2005-2015.

“Pada periode 2020-2030, wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan mengalami kenaikan suhu tertinggi terjadi di sebagian Sumatera Selatan, bagian tengah Papua dan sebagian Papua Barat,” katanya lebih lanjut.

Untuk mengantisipasi suhu udara permukaan yang semakin panas di masa yang akan datang, yang disebabkan oleh fenomena global warming, perlu adanya upaya adaptasi dan mitigasi.

“Upaya ini harus dimulai dari kesadaran kita untuk mengurangi hal-hal yang dapat meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer dan membekali diri dengan pengetahuan tentang dampak negatif dari perubahan iklim,” ujar Siswanto.

Siswanto memaparkan bahwa kejadian gelombang panas yang terjadi di Inggris, dan sebagian wilayah Eropa, memiliki peluang terjadi sepuluh kali lipat lebih sering daripada 100 tahun lalu.

“Beberapa hari ini, Inggris dan negara-negara Scandinavia terdampak gelombang panas yaitu bertahannya suhu udara permukaan yang tinggi dalam beberapa hari. Tercatat di beberapa tempat di UK suhu mencapai 42 – 44°C, termasuk juga meluas hingga Eropa barat daratan,” urainya.

Gelombang panas di Eropa umumnya muncul pada puncak musim panas, dibangkitkan oleh terbentuknya sistem tekanan tinggi udara permukaan hingga atmosfer atas yang membendung aliran udara dari daerah lain atau istilahnya, atmospheric blocking sehingga berkembang menjadi udara panas.

Meskipun sistim itu diprediksikan segera meluruh dalam beberapa hari ke depan, tetapi masih tetap ada peluang bahwa kejadian ini akan berulang lagi karena musim panas masih berlangsung hingga September nanti di sebagian besar Eropa.

“Umumnya puncaknya adalah bulan Juli dan Agustus. Kejadian ekstrem panas kali ini pun sudah yang kedua kalinya di bulan Juli ini, setelah sebelumnya di bulan lalu, gelombang panas juga telah melanda Perancis dan Spanyol,” ucap Siswanto.

Dari analisis data iklim oleh peneliti Eropa sendiri, kejadian gelombang panas seperti kali ini termasuk kejadian ekstrem yang memiliki periode ulang > 30 tahun. Bila ekstremitas ini dibandingkan dengan iklim periode 100 tahun lalu, peluang kejadian gelombang panas seperti saat ini, telah meningkat 10 kali lipat frekuensinya di masa iklim zaman sekarang.

“Akibat perubahan iklim, risiko itu makin meningkat di masa mendatang,” pungkasnya.

Lihat juga...