hut

Inovasi Museum TMII untuk Mencerdaskan Bangsa 

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan kawasan wisata bertema ragam budaya bangsa Indonesia. Beragam budaya dan tradisi ditampilkan, di anjungan daerah dari seluruh Indonesia.

Sebanyak 20 museum juga menyemarakan TMII, yang dibangun oleh Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. “Sesuai cita-cita Ibu Tien Soeharto, yaitu melestarikan budaya bangsa. TMII juga menghadirkan museum yang mengandung nilai sejarah dan edukasi,” kata Ketua Asosiasi Museum Indonesia Kawasan Khusus (AMIKA) TMII, Sigit Gunardjo, kepada Cendana News, Sabtu (6/7/2019).

Kordinator Museum dan Hubungan Kelembagaan TMII, Sigit Gunardjo. Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, museum adalah wahana rekreasi yang bersifat edukasi. Dan ibarat buku, museum merupakan ensiklopedia ilmu pengetahuan yang dapat dilihat karena keingintahuan. Sehingga banyak sekali informasi yang diperoleh saat berkunjung ke museum. “Tugas museum itu mencerdaskan bangsa, ini yang selalu ditegaskan Ibu Tien Soeharto. Museum harus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang sejarah dan budaya bangsa,” jelasnya.

Dari sejarah tersebut, diharapkan dapat diketahui semangat para pejuang dalam merebut kemerdekaan bangsa. Sehingga kebanggaan dalam diri generasi muda akan muncul. Generasi muda juga bisa tahu ragam budaya daerah berkaitan dengan sejarahnya.

Museum sebagai wahana pelestarian budaya bangsa, perlu berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Seperti konten interaktif dan pembangunan fasilitas di lingkungan museum yang menarik generasi muda. Penataan diperlukan, karena museum harus mengikuti perkembangan zaman. Upaya yang dilakukan bisa dengan mengganti tampilan dengan digital dan memasang wifi di museum.

“TMII telah merubah teknologi yang ada di museum-museum, bukan kekunoan tapi inovasi kekinian yang digandrungi anak muda,” ujar Kordinator Museum dan Hubungan Kelembagaan TMII tersebut.

Perubahan tema museum yang mengikuti perkembangan zaman itu dikemas dengan inovasi yang tetap berdasakan sejarah. Hal itu dilakukan dengan menambahkan permainan, tampilan multimedia dan ragam kegiatan yang melibatkan komunitas anak muda.

Hal itu bertujuan, untuk merubah sudut pandang mereka tentang museum. “Penting bagi museum untuk membuat program yang betul-betul disenangi generasi muda. Ini untuk menghidupkan suasana di museum,” tukas Sekertaris Jenderal Asosiasi Museum Indonesia (Sekjen AMI) tersebut.

Adapun program yang disuguhkan contohnya di Museum Pusaka TMII. Yakni pengenalan senjata tradisional dari berbagai daerah. Dimana kemasan tidak sekedar menunjukkan koleksi senjata. Selain itu, mereka juga bisa menyaksikan tarian Mandau.

Setelah itu, barulah pengunjung diajak keliling Museum Pusaka, dan sekaligus melihat bagaimana membuat keris di Baselan. “Disamping Museum Pusaka ada Baselan, tempat membuat keris. Mereka bisa menyaksikan cara membuat keris, dan terinspirasi belajar tentang sejarah senjata pusaka,” jelas Sigit.

Demikian juga di Museum PP IPTEK TMII, berbagai program menarik disajikan untuk pelajar dan anak muda. Museum Listrik dan Energi Baru TMII dan Museum Olahraga TMII juga memiliki ragam program yang menarik minat generasi muda. “Jadi di masing-masing museum sudah mulai menggeliat membuat program dengan kemasan menarik. Anak muda datang ke museum itu bukan sekedar lihat koleksi, tapi dia lebih integratif,” tandasnya.

Inovasi program tersebut dapat mengubah kesan museum yang membosankan. Generasi muda akan lebih cinta dengan museum. Ini menjadi cerminan penguatan jati diri untuk mencintai warisan kebudayaan bangsa. Dalam pengembangan museum di TMII, keberadaan Museum Modern and Contemporary Art of Nusantara (Macan) galerinya sangat menarik generasi milenial yang rela antre berfoto meski tiket masuk mencapai Rp100 ribu.

Cara merubah stigma museum adalah menciptakan suasana yang nyaman, bagi pengunjung dengan tampilan fasilitas teknologi kekinian. “Museum Macam itu kan luar biasa tampilan milenial mengusung tema industri kreatif. Nah, museum di TMII juga sudah banyak berubah dengan teknologi kekinian. Karena kami sadar, di era milenial museum juga  harus mengikuti zamannya,” tukasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!