hut

Kapten Kapal

CERPEN KEN HANGGARA

SEORANG kapten kapal ditemukan mati tergeletak di kolong bus. Tak ada yang tahu di mana terakhir lelaki tua itu terlihat, hanya lama tak mendengar suara khasnya saat bernyanyi lagu-lagu dari Prancis atau Inggris.

Bahasa itu sangatlah asing di kuping seluruh warga desa, kecuali segelintir saja, yang sayangnya tak pernah ada waktu untuk menjelaskan maksud setiap lagu tersebut.

Jadi, orang hanya akan tahu andai suatu pagi yang dingin tiba-tiba seseorang bersenandung dengan bahasa aneh, bahwa di sanalah dia berada, sang kapten tua yang nyaris tak memiliki teman dekat.

Kapten tua punya kapal yang juga tua, yang lama tidak beroperasi. Tiada yang tahu kapan terakhir kali kapal tersebut disandarkan ke dermaga. Tetapi para nelayan pastilah bisa mengerti kalau kapal yang dimaksud hanya akan menjadi rumah. Meski setiap hari berada di antara perahu-perahu kecil yang  memburu ikan.

Kapal tua milik sang kapten diperkirakan tak bisa dijalankan lagi, karena terlalu lama menganggur serta tak pernah dirawat atau diperbaiki. Benda raksasa itu hanya ditinggali seakan-akan itu rumah dengan menyerap air dermaga sepanjang waktu, embus angin, terik matahari entah berapa dekade, dan, tentu saja, guyuran kencing dan tinja pemiliknya.

Sang kapten memang tak memiliki rumah di desa itu, dan tak ada yang tahu juga di mana dia dulu berasal.

Orang hanya mengerti dia memberikan sesuatu yang banyak dan berarti bagi desa pada masa yang lama berlalu, dan mereka pun menganggapnya bagian dari desa ini tanpa ada persoalan apa-apa.

Sejak awal, kabarnya sang kapten kapal tak pernah menikah, sehingga hidupnya di sekitar dermaga dan desa sebagian diisi oleh wanita-wanita yang patah hati olehnya, dan hanya sebatas itu. Tak ada bayi, tak ada janji pernikahan, tak ada urusan atau perkara apa pun yang perlu disesali, kecuali waktu yang terus berputar.

Barangkali, bagi sang kapten, waktu adalah barang tak berharga, sehingga tak ada yang pernah mendengarnya mengeluh tentang tubuhnya yang mulai gampang lelah dan sakit-sakitan. Orang lainlah yang justru melihat dirinya makin membungkuk dari waktu ke waktu dan mulai menaruh perhatian, meski tak pernah bisa sedekat yang mereka bisa harapkan.

Sang kapten memang gagah perkasa, bekas petualangan masa mudanya tersebar di berbagai sudut kapal dan lorong-lorongnya. Andai seseorang mendapat kesempatan bisa pergi menengok tempat tinggalnya itu akan tahu.

Entah berupa pedang-pedang dari berbagai suku dan kerajaan di belahan bumi lain, entah tulang-belulang binatang langka atau siluman dari pulau mistis (seperti yang dulu kerap dia kisahkan), entah juga berupa baju wanita dengan desain yang sangat aneh dan tak cocok untuk dikenakan oleh penduduk daerah sini, bahkan yang tercantik sekalipun.

Dengan jejak masa mudanya itu, sang kapten tak pernah mau menerima bantuan dari siapa pun, sebab itu, agaknya, membuatnya merasa dikasihani. Dia menolak situasi itu.

Maka, sang kapten pun tak banyak memiliki teman. Segelintir orang saja yang tahu dan paham betul bagaimana isi kapal sang kapten. Tak ada siapa pun yang bisa masuk sembarangan ke “rumah” itu, kecuali ingin menerima sakitnya ditembak oleh sang kapten yang masih bermata tajam meski berusia senja.

Sejak dulu juga, beberapa kali, sang kapten menghilang dari segala sudut desa. Di pasar, di pelabuhan, di dermaga, tempat di mana dia membunuh waktu masa mudanya yang terakhir, juga tak ada.

Orang-orang lalu tahu bahwa kadang sang kapten juga butuh pergi ke berbagai tempat di masa mudanya untuk beberapa hal yang dulu belum dia bereskan, dengan berjalan kaki tentu saja.

Tak ada yang tahu urusan macam apa itu atau ke mana dia pergi, tetapi toh kapten tua itu selalu kembali. Saat orang desa lama tak mendengar suara nyanyiannya, mereka kira sang kapten lagi-lagi pergi ke suatu tempat yang hanya dia saja yang tahu.

Namun suatu hari, setelah entah berapa lama laki-laki tua itu tak kelihatan batang hidungnya, tak sengaja seseorang menemukan tubuh kakunya di bawah kolong bus bekas yang tak lagi dipakai.

Tubuh itu membusuk sedemikian rupa, dan orang menebak kematian sang kapten berlangsung beberapa hari sebelumnya. Jika demikian, berarti, dia telah pulang kemari sebelum benar-benar mati. Bagaimana mungkin orang tidak tahu?

“Atau, ada yang membunuhnya di suatu tempat? Maksudku, seseorang di luar sana, yang barangkali dahulu adalah musuh bebuyutannya? Setelah dibunuh, Kapten dibawa ke sini, dibuang ke kawasan yang orang-orang ketahui sebagai tempat di mana kapalnya terakhir bersandar!” tebak seseorang.

“Tidak. Kurasa dia keracunan makanan,” bantah yang lain.

“Bagaimana kalau dia kebetulan hanya meninggal saja?”

“Kok bisa?”

“Maksudnya?”

“Kok bisa meninggal di kolong bus tua?!”

“Mungkin dia sengaja tidur di situ selagi merasakan kematian akan datang padanya, dan dia enggan merepotkan kita dengan mengurus tubuhnya.”

“Sekarang kita juga masih harus mengurus tubuhnya, kan? Tebakan yang aneh!”

“Setidaknya sekarang tubuhnya busuk dan mungkin petugas rumah sakit atau polisi yang justru bekerja!”

“Benar juga.”

Memang, setelah sekelompok polisi datang dan memeriksa TKP, serta menanyakan beberapa hal pada warga, jasad kapten tua dibawa ke rumah sakit untuk diurus di sana. Tak berapa lama, jasad itu kembali bersama peti kayu sederhana dan orang-orang desa pun serempak menguburkannya.

Hanya saja, tak banyak yang hadir karena itu jam sibuk. Banyak yang pergi melaut atau ada acara tertentu di kota, hingga para pelayat tak lebih dari tiga belas orang.

Kata seseorang, itu angka yang sial. Kematian sang kapten tua ini, menurutnya, jelas sebuah kesialan. Tak ada anak-cucu, tak ada pasangan hidup, tak ada tetangga yang benar-benar akrab. Sudah begitu, tubuhnya busuk pula. Betapa kematian yang tragis.

Demi mendengar ocehan tak sedap itu, seseorang yang lain menyuruh orang yang bicara soal kesialan untuk bungkam saja. Mulut, jika tak bisa digunakan untuk berbicara yang baik-baik, sebaiknya dibungkam atau dijahit bila perlu.

Maka, tidak terdengar lagi suara apa pun sepanjang prosesi pemakaman sederhana itu berlangsung. Setelah tubuh sang kapten berada dalam urukan tanah dan batu nisan, orang-orang pulang, tetapi mereka tak benar-benar ingin pulang dulu.

Mereka penasaran apa isi kapal tua yang tak pernah lagi digunakan untuk berlayar itu? Bagaimana seseorang bisa hidup di situ tidak kurang dari lima puluh tahun (atau setidaknya segitulah yang orang bisa perkirakan)?

Maka, setiap orang pun menelusuri segala sudut kapal raksasa tersebut dan tak ada yang menemukan sesuatu yang menarik selain barang-barang istimewa yang dulu sering dikisahkan para pengunjung khusus “rumah” sang kapten.

Tak ada peristiwa aneh apa pun, jika seseorang berharap menemukan sesuatu yang bersifat gaib atau kutukan. Satu per satu mereka pulang.

Hari beranjak gelap. Ketika para nelayan hendak melaut, tiada lagi pengunjung kapal yang tersisa, kecuali seorang pemuda yang masih terus menatap tiap inci dari tubuh kapal tua tersebut.

Esoknya, sang pemuda mengusulkan untuk membongkar saja kapal besar tersebut; siapa tahu ada harta karun di dalam sana, yang tak terjamah dan belum ditemukan oleh para tamu terakhir. Siapa tahu mereka menemukan sesuatu yang lebih dari harta karun?

“Sesuatu yang seperti apa maksudmu?”

“Entahlah!”

Tak ada yang menggubris pemuda yang sering dicap tidak waras itu. Tapi, semakin lama, kapal sang kapten semakin tampak menyedihkan saja karena tak ada lagi seorang kakek penyendiri yang menghuninya.

Kepala desa dan sebagian warga lalu sepakat dan tak ada kompromi lagi untuk menyingkirkan benda tersebut; mereka cemas akan terjadi hal yang tak diinginkan, misal kapal itu jadi sarang hantu, atau lebih buruk lagi: kapal sang kapten akan dijadikan tempat persembunyian para bajingan.

Tidak ada yang mencatat tanggal dan jam ketika kapal tersebut dibakar di perairan dangkal. Orang-orang lantas memungut benda sisa-sisa yang masih bertahan di dalam kobaran api seperti panci, wajan, gelas seng, jarum jahit, sabuk kepala, koin receh tiada guna, dan lain sebagainya.

Abu kapal menyatu bersama air, ditelan ombak, dilamun oleh waktu, dan tak ada lagi yang peduli. Bertahun-tahun kemudian, barangkali tak lagi ada yang mengingat betapa dulu pernah ada seorang mantan kapten, yang memutuskan pensiun dan tinggal di desa ini, yang juga pernah memberikan “sesuatu” yang berharga untuk desa (entah apa itu) di masa yang telah jauh berlalu.

Tapi kemudian dikubur dalam sepi usai jasadnya membusuk, dan satu-satunya harta peninggalannya dibakar hingga habis tanpa ada tetes air mata.  ***

Ken Hanggara, penulis asal  Sidoarjo, Jawa Timur. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku fiksinya Museum Anomali (2016), Babi-babi tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Lihat juga...