Kasus Stunting Tinggi, Purbalingga Prioritaskan Penanganan 10 Desa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Kasus stunting atau kekurangan gizi yang menyebabkan kondisi badan lebih pendek dibanding orang seusianya di Kabupaten Purbalingga termasuk cukup tinggi.

Data terakhir di tahun 2018, kasus stunting di Purbalingga mencapai 26,4 persen. Karenanya Dinas Kesehatan memfokuskan penanganan stunting pada sepuluh desa.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga, drg. Hanung Wikantono, mengatakan, sepuluh desa yang diprioritaskan yaitu desa-desa yang kasus stunting masuk kategori tinggi.

Yaitu Desa Sangkanayu, Kradenan dan Desa Selaganggeng di Kecamatan Mrebet, Desa Candinata Kecamatan Kutasari, Desa Kalitinggar Kidul Kecamatan Padamara, Desa Bantarbarang Kecamatan Rembang, Desa Pelumutan Kecamatan Kemangkon, serta Desa Cilapar, Sempol Lor dan Brecek Kecamatan Kaligondang.

Pada sepuluh desa tersebut, persentase kasus stunting mencapai 23,4 persen.

“Kita fokus penanganan stunting pada sepuluh desa tersebut, dengan target di tahun mendatang angka stunting di Kabupaten Purbalingga bisa turun di bawah 20 persen,” kata drg. Hanung, Kamis (11/7/2019).

Lebih lanjut Hanung memaparkan, stunting merupakan permasalahan yang menyangkut Sumber Daya Manusia (SDM), dimana bayi atau balita stunting tidak hanya memiliki tubuh yang pendek, tetapi juga otaknya kurang berkembang. Dan manakala dewasa, penderita stunting cenderung akan terkena penyakit kronis dan kualitas hidupnya  berkurang.

Hanung berharap, semua pihak turut andil dalam penuntasan kasus stunting. Mengingat yang tidak kalah penting dalam stunting adalah tindakan pencegahan. Pihak Puskesmas, desa, ataupun pengurus RT/RW diharapkan kepeduliannya jika menjumpai keluarga yang termasuk kategori miskin, sehingga tidak mampu memenuhi kecukupan gizi anak-anaknya.

Meskipun masih tergolong tinggi, namun sebenarnya kasus stunting di Kabupaten Purbalingga sudah mengalami penurunan.

Dari data Dinkes, pada tahun 2013 angka stunting di Kabupaten Purbalingga mencapai 36,7 persen. Angka tersebut menurun pada tahun 2016 menjadi 28 persen dan terakhir tahun 2018, angka penderita stunting pada kisaran 26,4 persen.

Walaupun sudah megalami penurunan secara berkala, namun di tingkat Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Purbalingga masih termasuk dalam 12 kabupaten/kota yang tinggi kasus stunting-nya dan masuk dalam kategori intervensi khusus.

Stunting merupakan keterlambatan tumbuh kembang balita yang disebabkan oleh dua hal, yaitu tidak tercukupinya kebutuhan gizi dan penyakit infeksi menular. Pada saat pengukuran pertumbuhan, anak stunting lebih pendek atau tingginya lebih rendah dibanding dengan anak-anak seusianya.

Karena itu dibutuhkan kepedulian semua pihak, terutama dalam pemantauan kecukupan gizi balita, hingga masalah sanitasi dan kesehatan lingkungan,” pungkasnya.

 

Lihat juga...