hut

Kelompok Tani di Purbalingga Produksi Pupuk Organik 20 Ton Sebulan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PURBALINGGA — Banyaknya peternakan sapi, kambing dan ayam dimanfaatkan Kelompok Tani Bina Sejahtera bersama warga Desa Nangkod, Kecamatan Kojobong, Kabupaten Purbalingga untuk memproduksi pupuk organik. Mereka bisa memproduksi 20 ton dalam satu bulan dan mulai dipasarkan keluar daerah.

Ketua II Kelompok Tani Bina Sejahtera, Kusmi Haryanto mengatakan, di desanya bahan baku melimpah, sehingga ia bersama anggota kelompok tani berinisiatif untuk membuat pupuk organik. Dalam pengolahan, pihaknya mendapat pendampingan dari Universitas Gajah Mada (UGM).

“Awalnya kita dari kelompok tani yang mengusulkan kepada pihak desa, kemudian ditindaklanjuti, hingga akhirnya ada pendampingan dari UGM,” terangnya, Rabu (10/7/2019).

Untuk pembuatan, Kusmi bersama petani lainnya menggunakan komposisi kotoran ayam 25 persen dan campuran kotoran sapi serta kambing sebanyak 75 persen. Setelah dicampur secara merata, kemudian dilakukan fermentasi dengan menggunakan bakteri. Proses ini memakan waktu sekitar 10 hari.

Lebih lanjut Kusmi menjelaskan, saat ini para petani lebih suka menggunakan pupuk organik. Selain harganya lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia, bahan-bahan untuk pembuatan juga lebih mudah diperoleh. Kelebihan lainnya adalah, lebih ramah lingkungan, aman bagi tanaman serta menyuburkan tanah.

Dari sisi konsumsi hasil pertanian, saat ini masyarakat juga mempunyai kecenderungan untuk mengkonsumsi sayuran serta buah-buahan organik, karena lebih sehat untuk tubuh. Secara otomatis, harga sayuran dan buah organik juga lebih mahal.

“Melihat banyaknya manfaat dari pupuk organik, maka kita optimis produksi pupuk kita akan laku dan diminati di pasaran. Sekarang kita sedang memasarkan pupuk organik kepada para petani sayuran di Dieng, Banjarnegara dan para petani durian di Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas,” jelasnya.

Produksi pupuk organik ini baru berlangsung sekitar enam bulan dan selama ini baru dimanfaatkan oleh petani sekitar. Setelah pintu pemasaran ke daerah lain terbuka, maka produksi pupuk organik akan dikembangkan.

Kepala Desa Nangkod, Sahlan menjelaskan, pihaknya sangat mendukung upaya yang dilakukan kelompok tani dan warga desa dalam memproduksi pupuk organik. Sebagai bentuk dukungan, tahun ini desa akan menganggarkan Rp150 juta untuk peningkatan produksi pupuk organik.

“Potensi pasarnya sangat terbuka, sehingga dari desa sangat mendukung dan siap untuk memberikan dukungan modal. Nantinya, untuk pemasaran pupuk organik akan ditangani oleh BUMDes,” pungkasnya.

Lihat juga...